Puisi; Nyanyian Rindu – Isman Sumuburu

RINDU

Diambang dua alam
Kubaca sepotong sajak

Kharapkan kau mendengarnya
Tepiskan rindu yang terpenjara

Rindu terlalu parau
bahkan risau

Rinduku beradab dan taat
Penuh makrifat

Kumerindukanmu adalah maut

Makassar 20 Oktober 2017

RINDU TERSESAT

Saat jingga
Aku duduk merapal kata
yang tak habis

Laut luas, jalan sepi
Aku di sini

Melawan rindu
dan rayuan

Biarlah jingga menari
Sesatkan rindu di labirin hati

Makassar 30 Oktober 2017

RINDU BUKAN WACANA

Tanyamu…
Apakah rindu adalah koalisi partai
yang diadu domba para pejabat yang berhati perut dan kenikmatan sesaat?

Tanyamu…
Apakah rindu adalah wacana yang lahir dari penikmat kekuasaan
atas nama rakyat, yang menjelma jadi pemuas hawa nafsu belaka?

Tanyaku…
Apakah rindu adalah job bagi-bagi jabatan atau kekuasaan,
yang ketika kalah membuat kekacauan, yang ketika menang
membuat kebijkan dengan kesewenang-wengan?

Tanyaku…
Apakah rindu lahir debu-debu jalan kaum lemah, yang menjelma jadi budak di negeri sendiri.

Jawabku…
Rindu bukanlah wacana, yang kita buat dengan recana.
Melainkan rindu adalah rasa yang tercipta diantara kita, tanpa banyak tanda tanya, tanpa harus dijabarkan dengan rumus matematika.

Sederhana dan sangat sederhana, rindu bukanlah wacana
Rindu adalah rasa tak terdefinisi, hanya diungkapkan dengan
kata-kata dan argumentasi

Namun, tidak dengan kata-kata pemanis bibir seperti para politikus yang suka berjanji tanpa ada bukti.
Melainkan kata-kata sederhana seperti kau seduh secangkir kopi.
Manis, pahit menyatu jadi satu rasa yang abadi

Makassar 20 Desember 2017

KITA

Kita adalah sepasang bibir
yang asing di gelas
Dan debu berkelindan sunyi

Kita dan malam
tak akan padu: malam beranjak
Kita adalah tamu kesepian

Malam tetap menjadi malam
Dan kita tetap menjadi sepasang
bibir yang asing.

Bakudapa 21 Desember 2019

NYANYIAN RINDU

Di malam yang hening
Mataku sedikit bergeming
Saat jangkrik bersenandung memecah sepi.
Dan rindu tak mampu jadi pualam ketika sunyi.

Bunyi suara di glotis
Nyanyian konsonan silabis
Angin malam begitu nyaring
Patah ranting kering

Rindu makin menyengat
Cangkir kopi makin sengat
Rembulang bertopeng kelam
Rindu begitu kejam

Nyanyian rindu mengacaukan logika
Merenggut segala nada dan kata
Berkelakar dan tak beretika
Hanya berbekal algoritma

Kelapa dua 01 April 2020

Isman Sumuburu
Latest posts by Isman Sumuburu (see all)
Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
​Mencari alasan untuk Durian