Gembala Waktu - Aliyudin Faranheit
Gembala Waktu - Aliyudin Faranheit

Gembala Waktu – Aliyudin Faranheit

Gembala Waktu

Pada nada-nada ranting menyangga dedaunan
Pada angin-angin bertiup menyepi malam
Pada rintih-rintih jangkrik menggaduhkan sepi
Aku rindu, di balik-balik tawa menyapa waktu
Tersesat, di bilah-bilah candu menyapa rindu

Aku hilang 
Meraung setia sebagaimana luka tertanam
Aku rindu buaian Ibu
Mengais setiap waktu yang tabah 

Diringkihnya amarah melebur serah
Aku terdiam, di sudut-sudut malam, tak kutemukan lagi pulang
Rumah, Ayah dan Monokrom sendu bertengger di dinding-dinding kenang

Tak ada lagi ketenangan, semua hancur, luluh lantah
Aku tersesat mencari setiap waktu menitik
Waktu dulu yang tak pernah kembali
Aku, gembala waktu

Jendela-Jendela Ilusi

Jauh ku pandang terik terjalnya hidup
Melipat detak tak bersayup
Tak ada sahutan ku ingin mengadu
Pada dinding-dinding besar yang menghalangiku tuk maju

Kupadam, tak lagi benderang
Kepastian merintih sejengkal napas
Tak ada jawaban menunggu waktu yang terbuang
Memporak-porandakan tulus yang ikhlas

Kuharap tak ada penyesalan
Bertamu dalam keheningan
Lewat jendela-jendela ilusi
Yang hanya dapat kutangisi

Sungguh tak kusangka tak terpikat
Pudarkan setiap nada yang mengalun semakin dekat
Menerobos setiap jendela-jendela ilusi
Yang bersembunyi dibalik mimpi

Sepi

Tersudut di kota nan jauh
Mencari jalan pudarkan peluh
Menggeretak sel-sel pembuluh
Biarkan pakaian ini lusuh
Mengaduh keluh kesah hilangkan amarah
Biarkan jari-jari melingkar kemanapun arah
Meski tak bertemu wujud pasrah

Ingin ku pamit
Menjarak hilangkan sakit
Merayu pada halusinasi yang menggigit
Meski kuharus berjinjit
Usah kau peduli aku tetap sepakat
Bertahan meski tumpuan itu berkarat
Mengelana kemanapun sekilas kilat

Sepi terasa mematikan
Bersembunyi dibalik tawa sungguh tak mengenakan
Menangis melerai beban, kalut sendirian
Kehilangan seberkas cahaya menggapai harapan
Kemana jalan untuk kudaki biar kudapatkan
Seekor tupai meraung-raung sendirian
Tak peduli didahan mendekat ia tetap bertahan

Untukmu Sahabat

Mendaki gedung pencakar mimpi
Menoreh harap kedalam seutas kenangan
Membuka dunia baru tuk kita dapatkan
Akhir dimana kita berada mengikat janji
Tentang relasi berarti harus kita tepati

Sahabat, ini bukan hal mudah
Tiga tahun menjalin cerita indah
Meski terkadang bertemu lelah
Duduk di pelataran sekolah
Akankah terulang perasaan gairah

Sahabat, meski ini akhir sebuah temu
Kuharap doa kan menjamu
Iringilah masa dengan tulusmu
Mengenalku dan mengenalmu
Mencintai waktu meski haru

Untuk Siapa Indonesia?

Lampu-lampu kota menabrak membias cahaya
Siang malam berganti secepat roda berputar
Memahami jiwa-jiwa sang pendekar
Menggusur setiap jengkal tuju tertuah

Hari ini datang, kemarin pelajaran
Siapkan saja untuk menerjang lawan
Hari kemarin masa lalu
Ingatkan aku yang harus maju

Tertatih dan tersandung memikul genderang
Untuk siapa indonesia?
Kulihat bocah-bocah tak tahu apa-apa berkeliaran
Mengabdi penuh tujuan

Untuk siapa Indonesia?
Apakah untuk buruh tani yang menghidupi ladang
Pegawai yang membanggakan jabatan
Anak-anak desa berceker tanpa sandal meniti setapak jalan

Untuk siapa Indonesia?
Detik jam yang tak pernah mundur
Seakan menggelora semangat tak terukur
Tetap membara penuh syukur
Untuk siapa Indonesia?
Mulut- mulut yang lincah berkata
Mendaki asa kalahkan bala
Tetap maju meski setetes darah dan luka menganga

Indonesia untuk kita semua
Yang maju meski kaki ditahan ancaman
Tegarlah untuk negeri yang tercinta
Semangat membara tak pernah lupa

Rela

Kutatap rintik dibalik jendela
Mendamai hati yang sempat lara
Kucoba lupakan apa itu luka
Menahan setiap derai air mata

Terasa tak bertenaga
Saat pegangan itu melonggar
Membatas waktu kian hingar
Memetik ingin patahkan jiwa

Malam pergi tak sekalipun ku antar
Siang itu duka ditemani senyap aroma jiwa
Kusalahkan hujan yang membasahi dunia
Menghapus jejak langkah aku dan dirinya

Kusadar hujan itu damai
Meski ku harus belajar agar ku rela
Menelan turunnya air mata
Menyeka setiap cerita-cerita duka

aliyudin faranheit
Latest posts by aliyudin faranheit (see all)
Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Perihal Melepaskan Melupakan Mengikhlaskan dan Memaafkan