Gempa Waktu
Gempa Waktu

Gempa Waktu – Erlyn

Aku mencoba menyusuri sebuah jalan, sepertinya tempat ini tidak asing bagiku. Aku melihat kebun dengan banyak keberadaan orang lewat di sana sini. tak lupa tanamannya juga berjejer rapi. Meski aku tak tau tanaman apa saja yang ada disana namun tak asing lagi di dalam ingatanku, ah entahlah ini begitu membingungkan.

Aku juga mendengar suara air yang begitu besar. Aku mencoba mencari sumber suaranya seperti air terjun tapi tak kutemukan. Hasilnya nihil, aku tak menemukan sumber suara air itu ah sudahlah pikirku.

Kususuri lagi jalan, sebentar. Aku mencoba berhenti sejenak, untuk mencoba mengingat ngingat tempat apa ini.

Ah iya, aku mulai mengingatnya. Bukankah ini tempatku bermain sewaktu aku masih kecil, dulu aku pernah bermain disini. Mencoba menaiki  bangunan besar ini. Sampai bajuku kotor dan sebelah sana. Aku lupa itu bagian apa dalam ingatanku. Yang jelas aku ingat aku pernah bermain di sini. Aku mulai berjalan lagi menyusurinya.

Hahaha “aku tertawa terbahak” tidak salah lagi. Ini benar-benar luar biasa. Ini tempatku bermain sewaktu aku masih kanak-kanak. benar perosotan besar itu. Entah siapa yang membuat wahana permainan ini. Yang jelas sekarang sudah usang. Dan tidak digunakan lagi.

Aku pernah terjatuh ketika mencoba menaikinya. Bahkan aku mendapat cindera mata dari tempat ini. Yaitu luka yang amat besar. Bahkan masih ada bekasnya sampai sekarang. Kucoba naiki satu kali lagi dengan hati-hati untuk turun ke jalan berikutnya. Dan tiba-tiba saja aku menemukan sebuah perkampungan?sayup terdengar ada yg memanggil namaku. Dan sonta aku menoleh yah benar saja. Aku melihat anak kecil melewatiku yg sedang bermain kejar-kejaran. Mungkin, tapi kenapa wajahnya tak asing bagiku, seperti aku sewaktu masih kecil dan yang satunya lagi saudaraku. Ah pusing aku mengingat semua ini. Dan kemudian mereka menghilang begitu saja. Sudahlah lupakan kurasa aku mulai berhalusinasi.

Aku mulai berjalan lagi dan lihat ini rumah yg sering kulewati dulu. Hampir setiap hari aku selalu lewat jalan ini. Benar saja, ada nenek-nenek yang duduk di teras. Dan  sebelah rumah lagi ada perempuan separuh baya, kurasa pemilik warung dan seorang Ibu yg menjaga anaknya yang memiliki kebutuhan khusus. kulihat lagi sebuah masjid tapi sekarang sepertinya bertambah besar oleh pembangunan yang diperbarui.

Seseorang menepuk pundaku, dia mengatakan. “akan kubuat cerita ini sebagai captionku
Di instagram, kamu gak mau nyoba?”.

aku bilang  “aku tak tau caranya menulis cerita tapi aku tau, aku mengingat detail setiap jalan yang kulewati, sampai bisa di tempat ini”.
“yaa coba saja seperti itu”.
“emm.. baiklah”.

Aku mulai mengingat runtut ingatan ini, beginikah rasanya nostalgia? Teringat teman-teman masa kecil dan tempat-tempat bermainku sewaktu kecil. Namun kenapa tiba-tiba sebagian ingatan ini pudar. Hanya beberapa potong yang kuingat, ah biarlah. nanti akan ku jadikan cerita pendekku saja. Bonus saja jika aku mengingat sepenuhnya.

Sial! tanggal berapa ini? yg kuingat masih 2019. Eh bukan-bukan.

Lalu aku tersadar. kenapa ruangan ini begitu gelap? dimana ini. aku mencari ponselku. Dan mencoba menyalakanya ternyata pukul 04:10 tgl 4 Januari 2020. Mataku terbelalak membukanya. Dan disebelahku? loh suamiku masih tertidur lelap.

Astagaaa! Itu hanya mimpi. Apa ini yang di sebut dejavu.

Tentang Penulis

Biasa dipanggil Erlyn, aku bukan penulis hanya penyuka buku. Lahir dibandung 23tahun lalu. Bisa bersua maya lewat instagram @erlynhamdani_15

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Puisi: Aku terjang sekali lagi