jangan kau gantung pertanyaanku
jangan kau gantung pertanyaanku

jangan kamu gantung pertanyaanku

Sadar atau tidak, aku dan kamu adalah generasi yang mengalami banyak peralihan kebiasaan akibat teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Aku dan kamu sempat merasakan bertukar salam, berkirim surat, lalu beranjak mulai menggunakan telepon umum, telepon genggam, bertukar pesan singkat.

Aku dan kamu juga generasi yang mengalami masa awal internet, beserta media sosialnya, mulai dari frienster sampai mig33, lalu facebook, twitter, instagram, whatsapp dan berbagai pilihan lain yang kini begitu beragam.

Semua pergantian itu dapat aku pahami, peralihan dan pergantian adalah bagian dari perubahan yang akan terus berubah sebab sifat dari perubahan adalah abadi.

Perubahan cara dan alat berkomunikasi nyatanya tidak serta merta memberi dampak baik agar aku dan kamu memiliki kemampuan berkomunikasi selancar jaringan 4G.

Aku masih saja terbata-bata untuk memulai percakapan, jika pun dalam teks akan berpuluh kali aku mengetik lalu menghapus lalu mengetik kembali dan pada akhirnya urung untuk mengirimkan padamu. Kamu juga masih sama seperti dulu, tidak pernah bisa cepat menjawab pertanyaan atau membalas salamku.

Jika pada akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya keadaanmu hari ini, menanyakan apa kamu sudah memiliki seseorang yang istimewa di hidupmu, dan segala pertanyaan yang setengah sadar aku ketikan dan penuh ketakutan aku kirim untukmu, maka jawablah sejujur dan secepat waktu yang kamu perlu.

Jawab saja jika kamu sudah milik orang lain, jawab saja jika kamu tidak pernah ingin menerimaku, jawab saja seperti jawaban-jawaban yang dulu harus aku dapatkan setelah berganti minggu.

Tapi, apa tidak bisa kamu lebih cepat memberi aku jawaban? Sudah kamu baca pesan dariku, tanda dua centang biru, namun kamu diamkan tanpa jawaban? Apa kamu memang senang menggantung setiap pertanyaan, juga pernyataan yang telah melintas waktu masih sama. Maukah kamu menjadi kekasih hala sehidup sematiku?

Ah, pertanyaanku tidak berubah, aku sebenarnya telah meyakini jawabanmu pun akan kembali sama, belum bisa berubah, kamu akan menolakku lagi dan lagi, dan aku akan kembali menanyakan hal yang sama lagi dan lagi. Begitukah lakon yang aku dan kamu mainkan? Entahlah.

Yogyakarta, 15 Februari 2020

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
memuisikan puisi wanita
Puisi Wanita – Zsazsa Nahrasiyah