Dalam perjalanan hidup kita, secara pasti tidak tahu siapa yang akan menjadi bagian dari kehidupan kita, siapa yang akan kita temui secara tidak sengaja di jam makan siang, seseorang yang baru saja kita lihat namun langsung terasa nyaman, atau seseorang yang seperti pernah ada di masa lalu dan hadir kembali.

Dalam sebuah acara kita bisa bertemu dengan seorang teman, dari seorang teman ini kita dikenalkan seseorang yang kemudian masuk dalam lingkaran pertemanan kita, semua mengalir apa adanya, seolah tanpa syarat, tapi sebenarnya banyak syarat sebelum lingkaran pertemanan dibuka secara utuh; bahwa dia teman dari temanku, atau bahwa punya genre buku bacaan yang sama, atau karena hal lain.

Lingkaran pertemanan ini kemudian dapat muncul menjadi persoalan kedekatan personal, genre buku bacaan yang sama, menjadikan waktu pulang sekolah atau pulang kerja untuk dihabiskan bersama di toko buku, walau kamu sadar betul masih ada setumpuk judul buku yang belum kamu beli dari hasil berburu diskon di bazar buku.

Sering menghabiskan waktu bersama, bertukar bacaan yang sama, saling mengomentari hal hal yang dianggap penting juga hal hal remeh temeh, pada akhirnya mengantarkan kedekatan yang jauh lebih intim, tidak lagi sekedar menghabiskan waktu sepulang sekolah atau kerja, tapi mulai meluangkan waktu lain untuk pergi bersama.

Dari membuat janji makan malam, menawarkan tiket nonton film yang diangkat dari novel, menghabiskan malam minggu bersama, dan banyak waktu yang akhirnya memerlukan kehadiran seseorang yang sebelumnya tidak kita kenal, semua seolah mengalir dengan sendirinya, seolah tanpa syarat, padahal banyak syarat jika kita mau membaca kembali perjalanan sampai akhirnya malam minggu dapat dihabiskan bersama.

Perjalanan sebuah hubungan memang terlihat sederhana, bertemu, kenalan, saling membuka lingkaran pertemanan, mulai membuka ruang pribadi, semakin jauh saling menyelami, dan akhirnya benar benar membuka diri untuk saling masuk dan di masuki. Lantas berjalan sebuah hubungan yang memerlukan ikatan, kita sering kali menyebut cinta.

Tapi cinta kita memang masih cinta yang membutuhkan syarat, walau seolah semua tanpa syarat, setidaknya perjalanan untuk sampai kata cinta terucap dan disepakati penerimaan pun banyak syarat, tidak hanya sebuah perkenalan dan genre buku bacaan yang sama, meluangkan waktu yang sama, namun tentu ada syarat syarat lain yang tanpa sadar sudah tertanam di kepala.

Jadi, jika pada akhirnya sebuah hubungan membutuhkan banyak syarat dari terucapnya kata cinta, maka sadarilah syarat syarat itu sejatinya telah melekat dikepala dan hati kita masing-masing.

Mari kita ingat, mengapa kita pernah tidak suka terhadap seseorang, dan kita bisa begitu suka terhadap seseorang yang lain. Jadi, tolong jangan lagi katakan cintamu tanpa syarat, sebab itu berat.

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Puisi Kepada Kata Tiga Kota – Audioblog