Memuisikan.id Sesudah Perpisahan
Memuisikan.id Sesudah Perpisahan

Sesudah Perpisahan

Hai kamu, terima kasih karena kamu masih menyempatkan waktu berhargamu untuk sampai di tulisanku ini, aku tahu kita mungkin telah lama tidak saling menyapa, tapi bolehkan kita untuk masih saling menyebut dalam doa? Hem, tidak mudah, tentu saja, tapi kita telah berhasil untuk memulainya.

Apa yang menjadi kesibukanmu saat ini? Tentu tidak lagi sibuk mengisi waktu kosong untuk menunggu sebuah pesan yang terlambat aku kirim, atau menghabiskan waktu mengurai cemas karena aku menghilang dalam lelapnya tidur siang, dan segala pertanyaan yang menjadikan kita akhirnya berbicara; kemarin kamu ke mana? kenapa aku tidak tahu? Yang bersamamu di berada rumah itu siapa? Apa kamu baik baik saja? Apa kamu sudah makan? Sedang apa? Apa kamu sudah tidur? Apa kamu masih mencintaiku?

Ah, rasanya mengulang kembali pertanyaan yang sering aku cuek untuk segera menjawab, rasanya rindu sekali, ternyata sesudah perpisahan ada rasa aneh yang datang pelan-pelan, rasa aneh yang masuk ke ruang sempit di sela-sela kenangan aku denganmu, rasa aneh yang memutar pertanyaan tidak penting namun aku ingin, rasa aneh yang ada kamu secara utuh.

Apa kamu juga merasakan rasa aneh yang sama denganku? Atau sebaliknya? Justru rasa aneh yang ada dirimu telah hilang bersama kata pisah yang bersama kita ucapkan? Em, jangan bilang jika rasa aneh yang mengganggu di hidupmu itu aku? Dan perpisahan menjadikanmu tak lagi memiliki rasa aneh yang mengganggu.

Apa kamu sudah lupa denganku? Sungguh cepat sekali, bukankah ini baru memasuki tahun ke tujuh sejak kali pertama langkah kita setuju untuk saling menjauh? Apa waktu tujuh tahun benar benar telah melenyapkan aku? Apa aku tidak ada yang tersisa sebagai ingatan di hidupmu? Sekedar sapa salam dan tatapan mata kali ketika kita berkenalan? Atau tangisan terakhir setelah perpisahan?

Tidak ada? Aku benar benar sudah tidak ada di hidupmu? Dalam sekelebat lalu saja di pikiranmu? Di gudang penyimpanan kenangan dalam hatimu? Tidak ada?

Em, baiklah tidak mengapa, aku kira memang begitu sebaiknya, cukup aku saja yang tetap menjadikan kamu ada, padamu biarkan segala tentang aku lenyap tanpa sisa.

Em, apa kabarmu? Semoga kamu baik baik saja. Jika kamu masih mengenaliku, aku masih sama seperti yang dulu, aku yang selalu rindu dan tak pernah tahu cara untuk mengungkapkan rinduku padamu.

Yogyakarta, 14 Januari 2019
Ryan Ari Rap

Latest posts by ryanarirap (see all)
Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Puisi: mati belum usai