Catatan Akhir Tahun; 2019 semua berganti kecuali kamu

Catatan Akhir Tahun; 2019 semua berganti kecuali kamu

Hai apa kabar, semoga dalam keadaan baik dan masih ada segumpal rasa yang menjadikanmu utuh untuk terus mencipta biak kebaikan. Tidak terasa  tahun akan kembali berganti, di penghujung Desember yang hujan seperti saat ini aku kembali teringat oleh kesibukan setahun yang lalu, ketika pulang pergi ke penerbit untuk mengurus penerbitan buku pertama Memuisikan. Ribet, tentu saja, ketika penerbit over produksi karena banyak sekali judul buku yang tengah antre untuk dapat giliran terbit, sedang kapasitas mesin tidak bertambah, dan buku pertama memuisikan, telah antre sejak dua bulan sebelumnya.

Penghujung Desember adalah kenangan paling menyenangkan, bau kertas sebuah buku yang di dalamnya berisi 101 puisi dari 101 penulis adalah hal yang aku pikir akan begitu istimewa dan memang istimewa sebagai penutup tahun kala itu, ya penutup tahun 2018, dan kini telah berlalu, tahun akan kembali berganti.

Desember kali ini aku tidak ada kesibukan perihal buku, beberapa  hal yang telah aku catat dan akan aku selesaikan di tahun ini nyatanya tidak berjalan sesuai rencana, seumpama kereta rencana itu seolah melaju keluar jalur sialnya aku tidak benar-benar sadar. Atau sebenarnya aku sadar namun tidak ingin menjadi sadar?

Tahun berganti dan semua berubah. Aku kini bukan lagi seorang yang ‘bebas’ ada ikatan-ikatan yang harus aku sadari menjadi label dalam kehidupanku. Aku telah menikah, memiliki seorang putri yang baru berusia dua bulan ketika menuliskan ini. Menikah dan beranak pinak, adalah alasan lain ketika hidup akhirnya harus aku jalani sampai sejauh ini.

Kamu, yang telah mengenalku sejak lama barang kali paham betul aku tidak pernah membayangkan akan sampai pada hari ini; menikah dan beranak pinak. Sesuatu yang jauh telah sempat membuatku jatuh, dan kamu tahu? Pada tahun 2019 ini semua berganti kecuali kamu. Kamu masih saja menjadi segumpal kenang yang utuh, seolah tak mau menjadi lekang, ada saja caramu datang, kamu barangkali lebih buas dari sosok hantu yang aku takutkan dalam mimpi pendekku, lebih dalam masuk dalam ingatan, lebih jahat.

Aku tidak menderita, sekali pun kenangan memang tidak pernah puas membolak-balikan kepala pemiliknya, hanya saja  waktu yang kuhabiskan kini jauh lebih banyak dari cerita yang pernah menjadi kenang, tapi kenapa, tak ada kemampuan menghapus barang satu dua tiap paragraf pembuka. Apa tidak cukup melihatku menjadi setengah hidup?

Jika, kamu menganggap aku jahat; oleh sebab sebagian isi kepalaku masih dihuni oleh masalalu yang tanpa ampun datang tanpa tahu malu, coba aku tanya padamu, siapa yang meminta ia datang? Siapa yang pernah menyangka ia akan berakhir menjadi sekedar kenang?

Akan aku lawan, tentu saja aku tidak akan berdiam diri, derita ini akan aku  bagikan padamu, sebab kamu pun  bagian dari setiap episode kenangan. Sepanjang tahun 2020, jika umurku sampai, akan aku tuliskan segala kenang sampai aku menjadi menang, dan tahun berganti, semua tetap kecuali kamu!

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Luka lama kita