Sabda - Kumpulan Puisi Ani Prasetiyo Wati
Sabda - Kumpulan Puisi Ani Prasetiyo Wati

Sabda – Kumpulan Puisi Ani Prasetiyo Wati

Sabda

Atas nama sabda mengalir
Mengajakku berpaling dari realitas
Tak sempat kuangkat jempol ini
Tapi kau membusungkan dada
Berceloteh seperti singa kandang

Apa ini sabdamu
Keluar lewat lidah api
Yang Memberi rangsang
Sampai puncak klimaks
Sabdamu begitu mahir bak naskah drama

Para aktor berkreasi
Yang mampu mengarah ke dalam kemaluanmu
Apa kau sanggup untuk kutagih janji
Katamu sangat mahir
Hingga orang-orang berkata wow

Jika hanya kemunafikan yang kau tanam
Seorang pecundang pun begitu mahir
Apa kau sadar dirimu adalah kemunafikan
Rohmu seikat kembang kemboja di kuburan
Yang menjelma menjadi janji

Sajak rindu

Namamu dalam Doaku
Yangku minta tuhan dalam sepertiga malam
Milyaran detikku lewati tanpa henti
Namamu terus menjelma dalam nadi ini

Gulir waktu yang begitu terasa lamban
Seakan kau memberi jalan
Hingga suatu ketika
Kau hadir dalam keajaiban

Hadirmu bagaikan rintik hujan musim kemarau
Kau bagai rona pelangi
Indah parasmu, anggun bahasa tubuhmu
Sungguh aku kagum padamu

Takdir

Serpihan nada yang tertinggal
Di ujung kota aktivis
Yang lahir oleh tunas-tunas baru
Saling tembak dan bunuh
Dengan senjata-senjata yang ampuh

Jiwa bertarung tapi terdidik
Teriakan yang mencakarmu dan merobek
Kulit-kulit mati
Dalam garis tangan nadi ini masih tertulis
Bersama takdir yang teriak

Jeruji ganas dan buas
Menjadi benteng kekuatan
Keberanian tertanam oleh
Jiwa-jiwa tertinggal
Salam dari timur

Pertiwiku

Wahai negeriku
Kuingin melupakan sesuap aksaraku
Padamu dan untukmu
Dengan nada nestapa dan riang kebanggaan

5 tahun sudah kepemimpinan kau atasi
Tangis tawa yang engkau kelupas
Dalam negeri ini hulu hingga hilir
Hingga peluh kesah yang kau rasakan

Padamu penguasa
Kusuarakan denyut aspirasiku
Mana kala sudah terdengar
Mana kala sudah terdengar

Optimalisasimu untuk negeri
Petir yang engkau rasakan
Berjuta ludah engkau terima
Caci maki yang engkau dambakan

Terimbas ketepian
Engkau bermain kecapi kali ini
Nada yang engkau bicarakan barulah kata
Terselip pada senyum kasuari

Ibu.
Baru aku mengerti
Tetes darah kami tanpa arti
Bapak bangsa telah terkubur

Apakah bangsa telah terkubur
Apakah sang tanah mulai lelah
Bapak sudah menjadi bangkai 1000 tahun yang lalu?
Apakah purnama telah lupa?

Dengan tangisan di pemakaman itu
Apakah batu nisan bapak sendiri telah lupa?
Yang selama ini asyik bercumbu
Laksana ombak yang tak kunjung reda

Sepasang bola mata ini
Terus berilusi
Sepasang telinga ini
Seolah terus mendengar suaranya
Yang telah kunyanyikan dalam merahnya darah

Untukmu Pemimpin yang Kuharapkan

matahari menyongsong di ufuk barat
ayam berkokok mulai bersahut
mengawali pagi bersama sang surya
yang cerah sekaligus mencekam
teriakan tangisan bercampur menjadi satu
bersama rasa gundah
apakah ini bangsa Indonesia?
yang katanya surga dunia makmur sejahtera
yang dianggap nyaman dari sengatan sang surya
kubertanya pada seorang bocah yang sedang mencari nafkah?
aku pun terdiam saat melihat pancaran wajahnya yang menggambarkan kegundahan
kubertanya di mana ayah dan ibumu?
dia hanya terdiam dan tertunduk lesu
ayah dan ibunya pergi bersama kenangan masa lalu
dia harus menghidupi adiknya
perang yang panjang telah membunuh harapannya
untuk sebuah penghidupan dia harus bekerja sendiri
pemimpin,
sosok pemimpin yang sedang kami butuhkan
yang bisa membangun bangsa dari penindasan
tangis dan jeritan yang dialami bangsa ini
bangsa ini sekarang tandus akan keadilan dan kemakmuran
tapi semua telah hilang bersama rintikkan hujan dan kini langit berhenti menangis
bumi pertiwi telah menumbuhkan bibit-bibit bangsa
yang akan membawa bangsa makmur sejahtera

Penulis

Ani Prasetiyo Wati, saya suka menulis sejak SD dimulai dengan menulis cerita pendek dan puisi tentang guru. Dan sampai sekarang saya masih mencintai tulis menulis saya kuliah disalah satu perguruan swasta di kota Lamongan dan sekarang masih semester 5. Bersua maya di media sosial : Ani (Facebook) Ani Prasetiyo (IG)

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Waktuku bersama Ibu; pernikahan adalah soal menyatukan dua keluarga