Di Balik Bayang - Bercerita Lianli
Di Balik Bayang - Bercerita Lianli

Di Balik Bayang – Bercerita Lianli

Berjalan di lorong tol saat hendak pulang ke rumah, langkah kaki bergema, semakin mendekat dari arah belakang, lari ikut lari mengejar, terpojokkan hingga tak bisa berkutik hanya jeritan ketakutan yang menguasai diri. Saat mata terbuka tidak ada apa pun, langsung berlari dengan nafas tercengang.

Tepat jam 1 malam telah tiba di rumah, lalu tidur, tapi raga ini telah masuk dalam dunia mimpi, merasakan hal yang sama, siapa dia yang selalu datang, tidur pun tak nyenyak. Pikirku ini hanya halusinasi.

“Kamu kenapa sakit?” Jawabku tidak. Sepertinya aku harus izin beberapa hari untuk tidak masuk kuliah. Mungkin mereka aneh melihatku seperti ini, aku pun heran apa yang terjadi di diri ini.

Kejadian itu selalu berulang terjadi, dalam Kenyataan dan mimpi, siapa dibalik bayang itu. Setiap hari ku terus meminum obat penenang, entah aku berbeda setelah kekasihku meninggal saat kecelakaan bersama, aku terbangun sekian 4 bulan tertidur di rumah sakit dan separuh ingatanku hilang, jika kita tak bertengkar di dalam mobil saat berjalan mungkin tidak akan seperti ini.

Setiap malam merasakan rasa sakit, teriak, hilang kendali, melukai diri hingga puas, setelah ini merasakan perih akibat ulah sendiri.

” Maaf… Maaf… Kamu pergi karena salahku, aku mohon jangan ganggu aku lagi”. Hahaa… Aku mulai gila, hatiku merasakan sakit yang luar biasa. Berjalan pun rasanya tidak berjalan rasa kaki ini seperti tidak menapak di tanah, karena pikiran kosong, tidak menerima kenyataan.

Saat siang hari aku mengunjungi makamnya, ada rasa sakit yang tidak bisa tertahan. Hei… Apakah aku yang tidak rela kamu pergi atau kamu yang tidak terima karena kepergianmu hingga kau selalu ada dibalik bayang-bayangku. Sedari tadi HP berdering tidak kuangkat karena malas, aku harus ke dokter untuk di periksa, kali pertama orangtuaku memaksaku untuk diperiksa, aku tetap bilang kalo aku tidak gila, ini hanya ketakutan bukan gila, pikirku selalu seperti ini.

Sepulang dari makam kumelihat ada tamu di rumah, aku terkejut kenapa bisa ada orangtua kekasihku yang sudah meninggal. Setelah itu kita ngobrol-ngobrol, saat itu mereka meminta waktu untuk berbicara enam mata, mamahnya memberikan sepucuk surat yang anaknya tulis saat aku tidak sadarkan diri. Aku ragu dan takut, setelah mereka dengar kabarku semakin buruk dengan kondisi yang seperti ini.

“Mamah mau kamu hidup lebih baik lagi, dari itu dia akan senang di sana melihatmu baik-baik saja dan bisa tersenyum”. Aku hanya diam dan tertunduk sambil perlahan membuka surat tersebut.

“Untuk kamu, maaf aku sudah membuatmu terluka, tidak seharusnya aku seperti ini, aku harusnya jujur sama kamu kalo aku sering jalan sama wanita lain, mungkin ini hukuman agar tidak terus menyakitimu, maaf untuk semuanya, aku ingin kamu bahagia, setelah ini segeralah hidup dengan baik, agar pergiku pun senang di sana, tulisan ini mamahku yang menulis dengan menuruti perkataanku, aku sayang kamu, kamu harus bahagia inget itu jika kamu tidak ingin membalas kesalahanku, berarti kamu memilih menyiksaku dan dirimu sendiri, terima kasih dan selamat tinggal”

“Maafkan aku mah, aku boleh menangis tidak”. Setelah membaca isi surat tersebut, air mataku tak bisa di kendalikan, aku menangis sejadi-jadinya, tangisan yang benar-benar membuatku berpikir dan mengambil keputusan bahwa aku harus di periksa kepada orang yang ahli sikis.

Aku menjalani perawatan agar lebih baik, meminum obat teratur, itu hanya halusinasi dari rasa takutku. Setelah sekian lama menjalani perawatan, hidup serasa normal dan balik seperti semula hanya saja yang tertinggal kenanganku bersamanya, terima kasih atas semuanya, aku telah kembali, aku tidak akan membuatmu tersakiti di sana.

Penulis
Lianli penikmat senja dan musik. Dapat bersua maya melalui Instagram: @lianli06

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Hiking in woods
Comments example