Memuisikan Puisi Bapak - Ali Wafa

Bapak – Kumpulan Puisi Ali Wafa

BAPAK

baru pagi tadi
aku lihat bapak dan bapaknya
benar benar sama

tidak ragu lagi
aku juga begini


JEMAWA

seketika saja sekelilingku menjelma raksasa
tinggi menjulang berkerumun hingga gelap

atau aku yang mengecil
atau aku yang mengecil
atau aku yang mengecil


MEREKA MENGGILA

sulur sulur lidah saling berdalih
berbelit belit melilit lilit seperti lipan
apa yang tuan kelinci inginkan ?
apa yang masih teratur di negara penuh aturan tak teratur ?

di bawah lampu rambu rambu pluto
anak anak kehilangan batok kelapanya
tak ada yang di kais
hingga hiasan kembali tak saling kait
teriakan kembali terlempar memantul mantul pada dinding telinga

dari lingkar spektrum yang terus menggelinding menggilas waktu memipih jarak
hal hal kosong dan hingar bingar tajuk
semaikan subur bertumbuh akar tinggal dendam
meringkuk dasar cekung lengkung lesung
lesu labanya tak lagi berima

tanah padi
tanah mati
tanah janji

suap suap tak kunjung menguap
akal bulus dan semua jadi mulus jalannya


TAN

seseorang yang tak kukenal sebelumnya
berbicara di belakangku
tentang :
ikhlas melepas luas tak berbatas
sabar melebar subur terhampar
“caramu menghembuskan asap rokok seakan tanpa beban”
kira kira apa yang sedang Tuhan rencanakan ?

ada banyak orang sepertimu
hanya saja tidak di pertemukan denganku
“sebentar lagi hujan , cepat atau lambat kita pasti bertemu”
lagi

RACAU

mata gelap
senyum lorong pelangi
lengkung pipi
aku ikuti getarannya

tetap berada di lingkaran
aku meloncat ke dalam
tanpa awal tanda akhir

yang aku kira wajah
nyatanya langit

berduyunduyunlah kita pada laju asimetris
berguguran
tembus kaca wajah si bayi

rengek lelaki dalam gendongan ibu
dedaunan setengah kering bergesekkan
anggrek yang menumpang hidup pada inang jambu mati

dari dedaunan muda dan ujung ujungnya yang kekuningan itulah
lompatan lompatan bermula
berlambaian kerumunan daun
serentak dengan liuk liuk saxophone dan musik midi
berkarat tak terurus ,
diangguri teguk demi teguk,
sloki demi sloki

sebentar lagi hujan . berkemaslah, naikkan ujung ujung celana panjangmu
ember ember plastik teronggok belum terisi

pesta demokrasi , pesta demokrasi
orang orang sibuk sedari pagi
deterjen, odol dan sabun mandi
semuanya baru
dapet amplop lagi

pulau hitam , oranye dan putihnya yang berbintik hijau

tunjuk ujung kemaluanmu dan balur tinta ungu
sepasang telinganya berdiri, menoleh kanan kiri
ia pandangi aku, mengeong kemudian berlalu

aku baru saja membakarnya, daunan kering dari kawan lamaku
asapnya belum hilang mereka menginap untuk beberapa waktu
pandanganku mulai kabur , semuanya berputar
mengitari aku

akan lebih baik jika aku berdiam
akan lebih baik jika aku melawan diam diam
akan lebih baik jika aku hanya diam
atau masuk ke kamar diam diam berdiam dalam kediamanku.

ASIN

intip, ikan asin.
kacang

di goreng bersama bawang
di endapkan di atas hamparan koran
taburan garam

hari raya
hari raya
hari raya

toples kaca setinggi 30 senti
lingkaran sepasang telunjuk dan jempol
warna biru indah sekali
bahannya tebal , pecah bersama sendok dan tutupnya yang juga kaca

toples kristal tipis
berbentuk eropa klasik warna warni
merah, biru, putih dan hijau
satu toples putih bercorak bunga
cat timbul bertuliskan “selamat boeka”

membawa ke masa lalu
semua hal indah dan momen momen lucu

Penulis

Ali Wafa: Pemuda paruh waktu yang aktif dalam koloni DEMAKOMUNAL. Sering di bilang mirip mas is (ex-payung teduh) juga di bilang mirip wiranegara oleh sebagian orang. Ternyata mas is mirip wiranegara. Bersuamaya dengannya di ig @nesanesu

Latest posts by ruang tamu (see all)
Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
memuisikan puisi pulang
Puisi Pulang – Ronnia Mukharomah