Puisi Tak Terlihat (Kumpulan Puisi 101 Penyair Maya)

Tak Terlihat

Aku hanyalah bagian kecil dari yang tak terlihat
Aku tak kasat mata bila dilihat tanpa sungguh
Diriku bagai debu yang terbawa angin
Ada namun tak benar-benar terlihat
Mengamati adalah biasaku
Mengemukakan adalah inginku
Berusaha adalah bisaku
Aku nyata
Namun, saat ini aku sedang menunggu hujan reda
Agar pelangi dapat menyambutku
Dan membuatku terlihat
Diva Sekar Ayu, seorang perempuan kelahiran Cirebon, 15 Januari 2002. Beralamat tinggal di Jl. Lemahwungkuk Gg. Sumurbandung No.28 RT.08 RW 03 Cirebon, Jawa Barat. Terdaftar sebagai siswa SMKN 1 Kedawung, Kabupaten Cirebon.  Hobi Menulis dan menggambar. Dapat bersua maya melalui: https://www.instagram.com/divasekarayu15

Sepi Tak Membunuhku

Adakah yang merinduiku ?
Laksana kejora kepada senja
Selayak bintang menanti malam
Bagaikan gelap mengharap purnama
Adakah sebuah hati
Yang dalam diamnya, menyanyikan kidung merdu untukku
Melantunkan simfoni syahdu, alunan nada atas namaku
Ah.. Tak akan mungkin sepertinya
Tiada nurani bernyanyi tentangku
Sudahlah. Biarkan semua berjalan
Meski tanpa indahnya dirindui atau manisnya rasa dicintai
Tetapi, aku masih bisa berdiri
Menyanyikan kidung-kidung pelipur sunyi
Merangkai ilusi dan meramu imaji berpadu halusinasi
Untuk tercipta secawan sensasi pembunuh sepi
Surabaya, 25 Agustus 2018
Risky Calem, orang biasa yang penuh dengan bekas luka, mencoba bangkit dengan berkarya. Dapat bersua maya melalui: https://www.instagram.com/riskycalem
 

Sajak Pecandu

Tubuhmu adalah candu rayu sebuah nafsu
Tata bahasamu mengalir syahdu melewati rasa dan membuatku tersipu
Tatap matamu menggodaku tuk selalu tunduk di hadapanmu
Layaknya oase di tengah rasa yang semakin gersang
Kau menerka semua logika atasmu
Aku mengagungkanmu bak seorang bidadari yang tercipta untukku
Percayaku, adalah berada di persandingan bersamamu
Namun sayang
Semua itu hanya asumsiku di awal temu kala pertama kita saling bercumbu rayu
Kau menjelma fatamorgana yang kukejar dengan menutup mata
Bagaimana mungkin gerhana yang muncul di per sekian menit
Aku anggap itu indah
Sementara purnama kuabaikan
Andai waktu adalah aku
Maka kau, akan cepat kutelan bersamaku.
Cigedug, 06-08-2018
Aldi Fajar Nugraha, kelahiran Garut 24 Maret 1997, beralamat di Kp Cikuray Ds. Barusuda, Kecamatan Cigedug, Garut. Dapat bersua maya melalui. https://instagram.com/fajar.aldi24

 

Sekedar Singgah

Sebuah rasa yang berada di dalam asa
Ibarat pendaki dalam perjalanannya menuju bukit senja
Begitu menggebu, begitu membeku, dan begitu bergelora
Ingin segera meraih,
Ingin segera menapaki,
Ingin segera menjajaki
Dan ingin segera menempati
Namun, setelah semua terkuasai
Hilang sudah jati diri
seolah-olah lupa karena apa dia kemari?
karena apa dia menghampiri?
Pada akhirnya dia pergi meninggalkan
Tanpa adanya sebuah penjelasan
Hanya meninggalkan segelintir kesan
Yang sempat ia tanam dalam ingatan
Ia telah berkelana kembali
Mencari bukit lain untuk disinggahi
Dengan acuhnya ia terus melangkahkan kaki
Tanpa lagi peduli dengan keadaan diri ini
Aku hanya membeku melihatnya pergi
menikmati dalam diam perihnya tusukan duri yang sempat ia beri
Sesaat sebelum ia pergi dengan sejuta teka-teki
Sebagai penanda ia pernah datang kemari
 

Antika Andarista Pratiwi,  biasa dipanggil Antika atau Tika. Dilahirkan di kota Jember pada tanggal 17 Juli 2001. Anak pertama dari satu bersaudara. Sedang dalam perjalanan menyelesaikan studi akhir di SMA Negeri 02 Tanggul. Salah satu anggota PMR WIRA yang tergila-gila dengan Doraemon dan warna biru. Bersua maya di: https://www.instagram.com/andaristaantika

Terlambat

Dalam masa putih abu-abu.
Begitu banyak lesatan peluru.
Mencoba menembus palung.
untuk hentikan sebuah rindu.
Di masa putih abu-abu ini.
Begitu banyak cerita terukir.
Tentang kisahku, kamu dan yang lain.
Hingga nyaman pun menyelimuti.
Berpikir tidak ada cinta di antaranya.
Berpikir kita tidak saling menyukai.
Hingga berita burung pun terdengar.
Dan kamu, katanya menyukaiku.
Tidak menerima rasa ini.
Semua menjadi samar.
Aku menghindar.
Begitu pun sebaliknya.
Dada ini tersiksa.
Hati ini tak rela.
Melepas kepergianmu, untuk melupakanku.
Hingga berakhir, kamu gagal!
Kembali ke sisiku.
Dan kusadari, bahwa kamu yang aku pilih.
Titi Sulistyani, lahir pada tanggal 24 Juni tepatnya di Klaten, Jawa Tengah. Sekarang, memasuki usia 16 tahun. Sedang sibuk berseragam SMA N 1 JATINOM. Dapat bersua maya melalui: https://www.instagram.com/Titi12_dt
 
 
Lima puisi dari lima penyair maya di atas adalah puisi-puisi dalam Buku Kumpulan Puisi 101 Penyair Maya Memuisikan Mencari Penyair tahun 2018.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Aku ini kenapa?