memuisikan puisi pulang
memuisikan puisi pulang

Puisi Pulang – Ronnia Mukharomah

Pulang

Aku pulang kepada malam tanpa hadir bintang-bintang
Kulihat rembulanku sendirian di rumah berlenterakan remang-remang
Rindu di kolong dipan telah menggenang banjir ke sudut-sudut ruang bercat sepi terdalam
Aku menutup pintu dari belakang
Memeluk bayang-bayang yang tak hilang
 
Rumah ini telah begitu usang, sebab terlalu lama ditinggalkan
Dan selama itu aku belum dapat melupakan sejak senja kala itu diriku engkau tinggalkan
Lama aku tak pulang, pada kediaman tempat kenangan kita bersemayam
Karena yang aku rasa hanya kesakitan mendapati diriku masih bernyawa dengan hati berserakan
 
Tapi sayang, malam ini aku putuskan untuk pulang
Ke tempat kita berbagi kudapan juga candaan
Pulang ke sisi yang dapat aku pastikan
Di pondok ini jasadku bersemayam seraya memeluk kehampaan
 
Bila suatu waktu nanti engkau berkenan datang
Biar rasaku yang menyambutmu dengan tenang
Akan aku peluk dirimu sayang, dalam buaian
Tapi maaf, ragaku tak bisa datang
Sebab sukmaku lebih dahulu meninggalkan
 
Semarang, 09 April 2019

Bulan ke-4

April
Di tempat Tuan musim semi mungkin telah datang
Ketahuilah, aku di sini masih sering disambangi hujan
Begitu banyak jalanan banjir kenangan
Kenangan yang sejatinya telah lama dibuang Tuan
Namun hatiku bersikeras menyimpannya
Biar bila purnama telah matang datang rindu kemudian aku memimpikan Tuan
April
Masanya bunga- buang asyik bermekaran dedaunan rimbun di taman
Namun hatiku masih sibuk merelakan tentang perginya seseorang
 
April
Masih menyisakan banyak kesakitan
 
Semarang, 09 April 2019

 Pesakitan Rindu

Rintik rindu menyerbu menyatu desah nafasku
Kepadamu tuan, adakah kau lupa jalan pulang?
Setelah mengembara Panjang sendirian
Lupakah engkau terhadapku yang menantimu di setiap senja
Berharap engkau datang membawa pelukan

Atau sudahkah engkau temukan tempat pulang yang lebih nyaman?
Hingga aku dibiarkan dalam penantian tanpa kejelasan
Jika memang demikian adanya tuan, bukankah semesta amatlah kejam
Yang tega mempertemukan kita pada masa silam lantas memisahkan kita juga sekarang
Andi saja semesta dan tuan sama-sama tahu
Keseharianku ditempeli rindu yang bukannya gugur malah kian mencumbu
Lantas kepada siapa aku hempaskan semua rinduku?
Sebab kekasihku bukan lagi kekasihku
Ke mana harus aku enyahkan rindu
Ketika tempatmu bukan lagi milikku
Aku hanya tak mampu memikul semua rindu ini di sisa hidupku
Pun tak ingin mati dengan rindu yang masih membelenggu
Bukan hal lucu ketika di kubur nanti malaikat menanyaiku perihal rindu
Menyalahkanku sampai-sampai mati pun aku membawanya selalu

Tuan, tak bisakah engkau datang padaku?
Meski sekadar merobek rindu yang aku rajut buatmu
Dalam mimpi saja dirimu tak pernah mau
Pada rembulan yang sendu aku hanya bias menarik tanya, tak pernah sekalipun dirimu rindu padaku?
Sedang di sini aku mati-matian menahan rindu pilu
Rela menjadi pesakitan karenamu
 
Semarang, 09 April 2019

Gerimis

Tuan, aku dengar di luar gerimis datang
Bolehkah saya merajut memori barang sebentar
Tak jauh-jauh sebelum sampai masa yang silam
Cukup sampai musim kemarin saat tuan terakhir datang
 
Saya masih ingat benar
Ada sepucuk surat di samping cangkir kopi yang tuan pesan
Juga setangkai mawar yang erat dalam genggaman
Sampai sekarang saya masih tak mafhum
Kenapa senja itu tuan datang, selepasnya pergi menghilang tanpa berkabar
 
Apa arti dari mawar dan sajak yang tuan goreskan,
Apa pula makna senyum yang tuan pahatkan?
Sungguh saya tak mengerti,
Jadi bisakah tuan datang sekali lagi, malam ini
Agar saya tak lagi terjaga tengah malam dengan bertumpuk-tumpuk Tanya dan setitik penyesalan.
 
Di antara gerimis yang jarang, izinkan aku meminta tuan datang
Tak perlu dengan senyuman, apalagi pelukan
Meski sebenarnya demikian itu teramat saya rindukan
Hanya saja, saya tak lagi ingin berkebun harapan, sebab teramat takut bila nanti berakhir memanen kehampaan.
 
Tuan, aku telah selesai
Dalam penutup aku berdoa, semoga ingatanku ini sampai pada tuan yang di sana
Yang mungkin telah lupa denganku, sebab jarak dan waktu kita sulit untuk saling setuju
 
Semarang, 2018
 

Dari secangkir kopi yang bersanding senja

Aku terjebak
Di antara hitam dan jingga yang memikat
Pahit yang terkecap tergadai kirana yang tercetak
Aku tenang, rehat dalam diam
Dengan secangkir likuid penenang, juga maha karya Tuhan
Diambang senja bibirku terbungkam, Netraku terpejam
Meresapi tiap sari bijih kopi yang legam
Mencari lebih jelas kenikmatan
Menantikan sentuhan yang lebih dalam
 
Semarang, 2018
 
 

Siang hari di bus kota

terik mentari menyengat kulit
debu di tanah mengepul di udara
kurapatkan kaki pada dinding jendela
dari balik tipisnya sebuah kaca
netraku menangkap binar di mata
dari sebuah dewi yang tuhan cipta
saat ini aku tengah jatuh cinta, kurasa
aku bisikan kata pada sopir di baris terdepan
“aku turun di sini”, kalian tahu apa jawabnya?
“jangan gila, ini  belum di stasiun kota”
“…hendak melamar ke kasih-Ku”
Lanjutku.
Semarang, 2018
Ronnia Mukharomah, lahir 10 Juni 1999 di Banjarnegara. Alamat rumah : Gumelem Wetan Rt03/Rw05, Kec. Susukan, Kab. Banjarnegara. Sekarang tinggal di Tembalang, Semarang, Jawa Tengah. Sedang menempuh pendidikan di Politeknik Negeri Semarang, Jurusan Tenik Mesin, Program Studi D-3 Teknik Konversi Energi. Beberapa karyanya pernah dimuat di media nusantaranews, majalah simalaba, dan SKSP Institute Kepenulisan. Juga dalam antologi puisi kidung rindu, dan kanopi mimpi. No. telp : 085878855580

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Pre Order Buku Kumpulan Puisi Pertama Memuisikan