Aku tidak melakukan apa-apa

Hai kamu, bagaimana rasa sepimu? Apa sudah ramai kini yang menjadi bagian hidupmu? Apa pun itu, semoga kebahagian selalu mencipta kebaikan untukmu. Amin.

Aku sedang di Kudus, kota dengan geliat kretek yang telah menciptakan banyak cerita, banyak kehidupan berlangsung karenanya, banyak pro dan kontra tentu saja atas nama yang di sandangnya ‘kretek’.

Seorang teman yang baik, bersua di tempat singgahku malam ini. Obrolan ringan mengalir tanpa ada tapi. Masih seperti dulu, ketika segala masih ungu, seperti nostalgia kecil, walau temu selalu kami cicil. Tentang hidup dan kehidupan, tentang pandangan-pandangan manusia tanggung yang coba mengartikan zaman, adalah obrolan yang selalu menjadi puncak di sela-sela menikmati kerinduan. Ya begitulah.

Ada pertanyaan kecil yang tiba-tiba tidak bisa aku jawab, soal kehidupanku dengan label yang melekat padaku sekarang, tentang sesuatu yang dalam pandangan umum adalah tanggung jawab. Semisal ada pertanyaan atas keputusan-keputusan yang telah aku ambil, atau langkah-langkah kecil untuk melakukan sesuatu, kehilangan pekerjaan dan apa yang aku kerjakan sebagai pengangguran. Aku tidak bisa menjawab sebagai sejatinya aku, hanya bisa diam.

Aku percaya bahwa segala yang pernah ada label namaku adalah bukan keberadaanku yang menyebabkan itu ada. Aku tidak melakukan apa-apa, seperti yang sering kali orang tuaku sampaikan pada malam-malam ritmis. Aku teringat ketika Bapak menyampaikan ini “Aku tidak melakukan apa-apa, tidak ada yang bisa aku sebut sebagai sebuah daya cipta atas laku ruh dan fisikku, tidak jua pada keinginan dan segala rencanaku, tidak ada, sama sekali tidak ada, semua oleh sesuatu yang agung yang telah menggerakkannya, orang menyebutnya; Semesta, Pencipta, atau Tuhan”

Maka sebenarnya, jika ada pertanyaan yang sering kali tidak dapat aku beri sebuah jawaban, itu oleh sebab jawabanku pun sebenarnya tidak berlaku apa-apa. Jika sesekali kelepasan untuk memberikan jawaban, itu oleh sebab kemesraan yang sedang aku dan kamu lakonkan.

Tidak ada yang aku tutupi, pun aku percaya tidak ada yang ingin kamu ketahui. Segala aku dan kamu sudah jelas, yang berlangsung adalah kilas, esok pada senja yang tua setidaknya kita punya cerita, bahwa pernah ada malam-malam untuk mencipta sua.

Kudus, 1 Suro 2018
Mudjirapontur

Latest posts by ryanarirap (see all)
Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Cerita itu tidak usai