Apa kurbanmu? Sebuah teguran dalam pembelajaran.

Hari ini umat muslim di Indonesia dan belahan bumi lain merayakan hari raya Idul Adha atau lebih sering menyebut dengan hari raya kurban.

Kurban adalah jenis ibadah paling tua di dunia. Filosofi dari peristiwa penyembelihan Ismail putra Nabi Ibrahim, kata Quraish, adalah kepatuhan seorang hamba pada Tuhannya. Harta paling berharga Ibrahim AS adalah anaknya. Ia mendapatkan Ismail, buah hatinya, setelah menunggu lama.

Menurut Quraish, ada dua sisi dari peristiwa ini. Pertama, jangan pernah menganggap sesuatu itu mahal kalau untuk tujuan mempertahankan nilai-nilai Ilahi. ”Tetapi di sisi lain jangan sekali-kali melecehkan manusia, jangan sekali-kali mengambil hak-hak manusia karena manusia itu makhluk agung yang sangat dikasihi Allah. Karena kasihnya Allah kepada manusia, maka digantilah Ismail dengan seekor binatang,” ujar ahli tafsir terkemuka di Tanah Air, Prof Dr Quraish Shihab MA.

Tentu saja banyak pelajaran yang kita bisa petik dari peristiwa kurban ini. Dan setiap tahunnya selalu ada yang menarik dari perayaan hari raya kurban yang aku berkesempatan turut merayakan bersama teman, sahabat dan keluarga.

Seperti setahun yang lalu pernah aku ceritakan kepadamu soal Bang Nuel; Teman Abang saya ke Gereja dan dia berqurban

Hari ini beliau kembali menjadi perhatian, memberi pelajaran hidup dengan cara yang apik, dengan cerita yang akan dikenang dan diceritakan berulang.

Singkat cerita, setelah selesai Shalat Idul Adha dan warga kampung menikmati sarapan pagi bersama (sebagai tradisi membawa berkat/nasi bungkus untuk kemudian berdoa dan makan bersama dengan saling bertukar nasi bungkus). Acara selanjutnya adalah pemotongan hewan kurban. Ada delapan kambing kurban tahun ini, dua diantar untuk kampung tetangga yaitu kampung Bang Nuel, yang memang mayoritas tidak merayakan hari raya idul adha.

Setelah selesai, lalu kembali makan gulai bersama. Bang Nuel belum juga hadir. Ya memang dia warga kampung sebelah, seorang nasrani yang kami hormati seperti pernah aku ceritakan. Oleh sebab ditelepon tidak bisa, kami anggap beliau sedang ada urusan lain, tapi memang terasa kurang lengkap setiap kali obrolan terucap. Kehadirannya yang selalu ada di setiap hari-hari besar, memang menjadikan kebiasaan tersendiri, dan rasa tersendiri bagi warga kampung kami.

Sore ini Bang Nuel datang, rumah yang dituju kebetulan adalah rumahku. Berceritalah beliau kepada Bapakku.
“Maaf pak, saya tidak sempat ikut kurban hari ini” ucap Bang Nuel.
“Oh tidak apa-apa, daging kurban untuk kamu sudah diterima anakkmu, dan gulai buatan Ibumu sepertinya sudah menunggu untuk kamu cicipi” Jawab Bapak. Bang Nuel tersenyum, aku dan Abangku pun demikian.

Obrolan kembali kepada soal remeh temeh, soal usaha, soal naik turunnya harga pertanian, dan ya soal kehidupan sebagai orang tua.
“Kemarin saya sudah siapkan sedikit tabungan untuk Kurban, tapi seperti Bapak sampaikan bahwa memilih prioritas itu perlu” Ucap Bang Nuel kembali membuka pembicaraan soal Kurban.
“Ya, manusia memang harus bisa mengukur prioritas”
“Saya salurkan dana Kurban saya untuk lombok” Suasana jadi hening, Bapak saya menerawang jauh, tersenyum.

Lalu Bapak bercerita tentang Ibnul Mubaraq. Dulu Ibnul Mubaraq pergi haji untuk ke sekian kalinya. Di tengah jalan dia bertemu seorang anak perempuan sendirian mengambil seekor burung yang baru mati. Lalu dia bertanya kepada anak perempuan itu, ”Hai kenapa kau ambil burung yang sudah mati?” Perempuan kecil itu menjawab, ”Saya sudah tiga hari tidak makan sementara di rumah saya punya adik-adik yang kelaparan karena tidak ada yang bisa dimakan.” Apa yang Ibnul Mubaraq lakukan? Dia batalkan hajinya, uang buat ongkos perjalanan hajinya diberikan kepada anak itu.

“Begitulah bagaimana dalam beribadah pun kita harus pandai menentukan prioritas. Walau selama ini boleh jadi kita dalam beragama belum pandai melihat apa yang menjadi prioritas.” Bapak begitu berat mengucapkan ini, seperti sesuatu yang memang begitu sulit untuk diucapkan.

Dari Bapak, saya menyadari bagaimana hari ini kita bersuka cita dengan berkurban, menyisihkan harta yang dimiliki untuk tujuan Ilahi, beribadah, tapi pada waktu yang sama ada yang terlupakan; saudara sebangsa yang sedang membutuhkan bantuan. Bapak menarik nafas panjang, “Bagaimana sebuah pembelajaran bisa dihadirkan Tuhan dari berbagai cara, Nuel hadirmu ke rumah ini adalah teguran, dan Bapak menerima teguran itu” Seperti biasa Bang Nuel selalu hadir membawa cara dan cerita yang luar biasa.

Sore ini melalui Bang Nuel dan Bapak, mengingatkan kepada nasihat Syech Al-Ghazali yang menggambarkan salah satu kelemahan umat Islam adalah tidak pandai memilih prioritas.

Seperti Pak Kiai sampaikan di sela-sela obrolan selepas shalat “Doa itu luar biasa, selain dari doa membantu dalam wujud nyata adalah doa yang lebih luar biasa.” Kemudian, warga kampung kecil ini berkumpul dan membicarakan apa yang bisa disalurkan selain doa untuk saudara sebangsa di Lombok sana. Sedikit yang dapat dikumpulkan adalah kurban yang bisa kami lakukan.

Maka jika ada yang bertanya apa kurbanmu? Barangkali bisa kita menjawab kurban perasaan; cinta dan kasih sayang, untuk merasakan dan meringankan beban sesama manusia.

Wonosobo, 22 Agustus 2018

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Pada Januari yang menjadi milikmu