Terima kasih teman


Ingat kali pertama kita bertukar sapa? Semoga kau masih mengingatnya, sebab aku sudah mulai lupa detailnya. Seperti hujan, begitulah kita dipertemukan, dengan atau tanpa aba-aba, ada memulai lalu usai, kemudian menyisakan genangan sebagai kenangan.
Rainy, setahun berlalu menjadi sendiri. Purna pula kau menjadi puisi, juga induk kalimat cerita sehari-hari. Seperti mimpi yang menguap di pagi hari, kau akhirnya menjelma sepi. Doaku akan tetap sama; jadilah orange warna senja yang kau suka.
Sihart, tahun ke tujuh kita menjauh. Tuntas sudah segala juang dan keluh. Ah, kau memang angkuh, seperti karang yang menolak rapuh. Masih kau ingat tentang buaya? Atau sajak Asu yang pernah kita baca bersama? Seperti itulah yang aku temukan di persimpangan jalan selanjutnya, menelusuri jalan sepi seperti sedia kala.
Ayu, Nanto, Jeje, Richa, Nanda, Hanz, Ipau, Julak, Syam, dan sederet nama lainnya. Purnakah sudah cerita kita? Cukupkah sudah tugasku menuliskannya? Mengapa menjadi begitu cepat dalam barisan siap sedia; menjalani perputaran hidup yang memaksa buram cerita lama. Atau aku yang menolak tumbuh dewasa, dan laju waktu tak kuasa membawa kita bersama?
Seperti setiap keputusan tiada tahu benar atau salah, tapi setidaknya kita telah melangkah, dan seperti biasa kalimatku akan tetap sama; “selanjutnya adalah sepi, orang-orang akan pergi, seperti kedatanganmu yang sendiri, begitulah keberadaanmu di bumi”
Dan pada segala yang sedang dalam barisan kembali mencipta sepi, hati-hati di jalan aku tidak lagi bisa menemani. Aku dan kamu lahir pun sendiri! Terima kasih teman-teman, telah sejauh ini menemani.
Dan padamu Bryan, atas hadirmu dan segala penyegaran ingatan yang kau tawarkan, terima kasih. Kau memang sahabatku dengan segala kebaikan dan kesialan.
Wonosobo, 2018

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Puisi: kembalilah cintaku tak pernah marah