Doaku masih sama jadilah patuh untuk lelakimu

Hai apa kabarmu? Apakah masih merah seperti dulu? Atau sesuatu telah menjadikanmu biru? Masihkah tersesat engkau pada masa lalu? Lupakan pertanyaan konyol dariku!
Demi kopi yang hampir dingin dan sebatang rokok yang kubakar tanpa ingin, aku mengingatmu lagi. Barangkali di seberang sana, pada panas bumi yang menggila kau juga sesekali mengingatku. Mengingat pada percakapan, pada cerita lama, pada puisi, pada cerita sehari-hari, pada filsafat, pada Lenin, pada Komunis Kuba, pada Rumi, pada Imam Safii, pada Buya, pada Wiji, pada teh Ibu, pada terik siang hari. Seperti tidak pernah habis saja kita berbicara apa saja.
Sudah berapa waktu kita memutuskan tiada lagi temu, tiada lagi sapa, tiada lagi cerita? Selain doa, barang kali semua sudah tiada, hanya menyisakan kenangan semata. Ah, teman doaku masih sama, seperti aku yakin kau melakukannya. Tetaplah tumbuh: “Anak Ibu bersatu tak bisa dikalahkan!”
Minggu ini Bryan akhirnya sampai di rumah Bapak. Dia terbang dari Pulaumu dan selamat mendarat di Semarang. Kami memutuskan titik temu di Jogja, lalu mengenalkannya pada Wanti. Satu hal yang menjadikan ingatanku begitu kuat kembali padamu adalah kalimat yang keluar dari mulut Bryan yang sialan.
“Ini Wanti? Pantas saja kau betah menyendiri, mencipta goa dan duniamu sendiri, kau sudah mengenalnya beribu hari sebelum ini”
Ya. Wanti dalam sudut mata Bryan adalah engkau. Barangkali aku harus mengakui ada sedikit kamu pada Wanti, walau aku baru menyadari itu ketika Bryan selesai menjabat tangan Wanti dan hampir saja menjadikan Wanti menagih cerita tentang dirimu.
“Dia itu?” Begitu Wanti memulai segala ingatan di kepala tentangmu. Bryan memang sialan, kau tahu itu bukan kiasan.
Bahwa dari Bryan segala tentangmu kini begitu menyakitkan, bahwa hidup yang kamu jalani menjadikan teman-temanmu mengibarkan bendera kebencian, aku turut menyesal atas itu. Tapi apakah benar kamu berubah seperti tidak pernah aku kenali bahwa itu kamu?
Aku yakin, bahwa segala kesulitan yang mungkin saja menjadikanmu lain kelak akan menjadikanmu kembali lebih baik lagi. Bahwa segala coba dalam hidup terasa sulit, semua pun mengalami. Tapi jika akhirnya itu menjadikanmu dibenci, menjadikanmu hilang pada pertemanan, menjadikanmu merasa bisa tanpa mereka yang selalu ada dalam suka dan dukamu, barangkali kamu perlu rehat sejenak.
Seperti sepulang sekolah dulu, ketika kita berebut tempat untuk merayu manja pada Ibu, apa kamu masih ingat? Setiap nasihat Ibu adalah bagian yang menjadi bekalku merelakan keputusanmu, pun kamu pernah berkata begitu.
Jangan marah pada kehidupan, jangan mengejar apa yang berlari, jangan mendirikan istana di bumi, tapi membaurlah, kenali sekelilingmu, beri cinta dan kasih pada sesama, kau boleh marah, boleh pergi, tapi ingat selalu ada teman-teman baik yang ingin kau kembali, menjadi dirimu yang mereka kenali.
Padamu doaku selalu sama; jadilah tangguh, jadilah patuh untuk lelakimu tanpa kehilangan hidupmu.
Wonosobo, 2018

Latest posts by ryanarirap (see all)
Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Selanjutnya adalah malam-malam yang sepi