Harapan yang lama sekali


Aku menuliskan ini pada tengah malam menuju pergantian hari. Waktu seperti ini memang sangat nikmat sekali untuk kembali memutar kesalahan-kesalahan kecil, mengurai pelan-pelan, agar tidak kita ulangi lagi.
Dua bulan ini teman bermain yang membuat aku betah berlama-lama adalah Memuisikan. Tentu saja sebagian teman pembaca telah sedikit tahu soal Memuisikan. Jauh sebelum hari ini, kegiatan serupa Memuisikan pernah ada, saat itu bernama Rata Tengah, walau di Rata Tengah tidak soal puisi semata tapi banyak soal lainnya. Rata Tengah masih ada, manusia yang menjadi orangtuanya pun masih lengkap, tapi oleh satu kesibukan dan bersambut kesibukan lain tinggallah aku sendiri. Sesekali masih kopi darat.
Baik. Kembali pada mengurai kesalah-kesalahan kecil. Rata Tengah dulu hadir oleh sebuah obrolan, kesamaan atas hal yang disukai, lalu muncul inisiatif untuk membuat sesuatu. Terbit, lalu perlahan memudar, redup dan ah sudahlah. Sialnya aku terlanjur jatuh cinta. Seperti ditinggalkan ketika sayang-sayangnya. Itu ternyata tidak enak.
Setelah satu tahun. Ide di kepala yang mulai sering uring-uringan melahirkan Memuisikan. Lahir, terbit, dibidani seorang diri. Lalu muncullah pertanyaan dan permintaan; kebutuhan atas ruang. Maka muncullah Grup WhatsApp. Grup ini sisinya apa? Kosong. Keinginan belajar bersama? Masih wacana, lebih banyak kita ber-ahsudahlah. Walau begitu, aku anggap ini membantu. Memang susah mengelola sebuah perkumpulan apa lagi perkumpulan maya.
Aku mulai lelah oleh inginku sendiri. Seperti teman-teman tahu, inginku banyak sekali. Tapi siapa yang bisa menolak secara mentah-mentah sebuah ingin, setidaknya harus bisa memberi alasan untuk tidak melakukan. Sayangnya aku tidak bisa, aku perlu mewujudkan ingin, agar tahu batas inginku pada wujud nyata itu bisa atau menjadi angan lanjutan.
Memuisikan barangkali memang tidak sempurna. Pengetahuanku soal puisi bisa dibilang nihil/nol besar. Tapi siapa bisa menghentikanku? Selain diriku sendiri? Pun kegagalan yang akan aku alami oleh sebab siapa jika bukan diriku sendiri. Karenanya patut jika aku berbahagia dengan telah lahirnya Memuisikan.
Jika aku harus mencari kesalahan-kesalahan kecil pada Memuisikan, baik sebagai sebuah akun sosial media, maupun sebagai wadah perkumpulan, aku rasa kesalahannya adalah aku telah melahirkannya seorang diri lalu melibatkan orang lain untuk membesarkan anak yang bukan buah cintanya. Lalu aku kecewa sebab Memuisikan tidak mendapat kasih sayang anak dari orangtuanya.
Dan kau tahu teman, yang menarik dari ini. Aku akan kembali menjalani inginku, menyusui memuisikan dengan susuku sendiri, membesarkan dengan kasih sayangku sendiri, kalau pun kelak ia bisa berdiri sendiri dan berjalan layaknya anak yang akan tumbuh dewasa, dan corak tingkah lakunya tidak seperti yang aku gambarkan, itulah susu dan kasih sayang yang dia dapat dari orangtua angkat, ketulusan yang sepantasnya dia jadikan pegangan menjalani hidup.
Lalu, malam ini di kepalaku sebuah letupan kecil sepertinya akan lahir. Sebagai teman Memuisikan atau akan menenggelamkannya?

Wonosobo, 6 Agustus 2018
Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Puisi Catatan Gelap – Choimoza