Manusia macam apa aku ini?

Ada benarnya bahwa sebagai manusia ingin hidup seribu tahun lamanya. Maka sibuklah menyolek rupa bumi dengan beragam ide. Mula-mula pada mesin sederhana, bangunan yang lebih pada fungsi utama, lalu menjalar pada apa saja demi kepuasan manusia; hiburan, hingar bingar, dan segala yang bersifat sementara dan manja.
Ah, aku ini. Manusia macam apa aku ini. Melihat antre yang mengular pada tiap kedai yang memberi diskon aku merasa risi, pada tiap pusat perbelanjaan yang diburu manusia aku merasa iba. Ah, aku ini benar-benar kehilangan rasa manusia umumnya.
Tapi manusia juga aneh bagiku. Rela antre pada waktu yang lama demi satu dua menu makanan cepat saji, lantas hanya duduk lalu meletakan makanan itu, menyolek lalu mengambil foto dan sibuk pada layar mungil, sampai makanan itu dingin.
Juga ketika barang-barang diskon lainnya sudah dapat dibeli setelah berhasil berdesak-desakan, sesampai di rumah bingung akan diapakan barang-barang itu. Aku yang aneh, atau aku yang tidak bisa lagi merasa menjadi manusia umum.
Kemajuan umat manusia ini luar biasa. Dalam buku-buku sejarah aku dapat merasakan bagaimana kemajuan memang tidak dapat dibendung, lahir terus ide dan inovasi manusia. Sesuatu yang satu abad lalu hanya khayalan kini benar sudah berwujud dan dapat kita nikmati peruntukannya. Satu yang aku garis bawahi, setiap penemuan yang dijanjikan untuk memenuhi percepatan ‘kebutuhan’ manusia itu ternyata juga membawa serta penderitaan.
Penderitaan? Ya, bagaimana sebagai manusia kemudian berbondong-bondong dalam barisan berusaha sekeras yang mereka bisa untuk mendapatkan ‘kebutuhan’ yang baru saja diciptakan. Maka terjebak dalam laku kerja, kerja, dan kerja. Menjual waktu demi tercapainya hak milik atas suatu penemuan. Dan apa mau dikata, belum lagi paham betul penemuan baru atas nama ‘kebutuhan’ itu, muncul kembali penemuan baru atas nama kebutuhan baru, dan berlomba kembali untuk memiliki.
Ah, aku ini bagaimana. Bukankah harusnya bisa dan sedia masuk dalam barisan, menjual waktu pada kerja, kerja dan kerja untuk menjadi manusia dengan segala ingin dan memenuhi segala ‘kebutuhan’ dari penemuan. Pun sekarang rasa malas sudah dapat diperjual belikan, dan aku larut di dalamnya, menikmati jual beli masa itu. Tidak lagi perlu keluar rumah untuk sekedar mendapat makan, atau mendapat peralatan, atau guna mencuci atau menyapu rumah, semua telah tersedia dengan sekali pencet di layar mungil.
Seharusnya aku bersyukur, dan menikmati kemanjaan yang umum sebagai manusia umum. Tapi entah, aku merasa sedikit bosan. Setidaknya saat ini, entah esok.
Solo, 5 Juni 2018

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Puisi: Badut Tuan Roda