Puisi: Sebentar Mei hari buruh

Sebentar Mei hari buruh. Lalu kita akan saling tuduh. Saling acuh. Saling merasa tahu tentang buruh. Menjadi buruh yang bukan buruh. Menjadi bukan buruh yang paling buruh.
Turun pula ke jalan lalu menjadi cemoohan. Soal minta upah yang kelewatan. Soal minta pendidikan anak, soal minta jaminan hari tua yang kian tua. Soal minta jaminan hidup sehat yang tak masuk akal sehat. Soal minta selamat di tempat kerja agar juragan tak semena-mena jua mesin yang kian panas suhunya.
Padahal kau tahu Adek betapa belum sejahteranya hidupmu dalam 8 jam berdiri di dalam pabrik. Atau wajib lembur tambahan 2 jam yang upahnya tak seberapa dan menolak kena PHK. Juga ketika jarum mesin jahitmu patah kau diminta ganti berlipat harga. Belum lagi kena marah sebab perlu 15 menit mesin jahit itu bisa kembali bekerja. Ah kau lebih paham Adek. Apa lagi soal upah dan biaya sewa kamar kosmu yang selalu nunggak, walau makan sudah asal kenyang saja.
Tapi Adek. Setiap 1 Mei, kau menolak turun ke jalan. Sebab lembur. Dan kau justru merasa aneh melihat aku turun ke jalan membawa spanduk tuntutan keluh kesahmu. Kau kata aku bukan buruh.
Bukankah sudah abang sering katakan padamu Adek! Abang ini hanya seorang buruh informal. Jika kau mau tahu. Itu artinya abang ini pengangguran. Apa lagi yang bisa abang sumbangkan padamu selain turut serta turun ke jalan. Kau sudah tahu sekarang? Jadi jangan lagi kau tunggu abang ini jadi mapan. 🍻
Mudjirapontur
2015

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Teman Abang saya ke Gereja dan dia berqurban