Puisi: pada buku kenangan

Kekasih, apa kabarmu? Adakah ingatan yang merasuk dalam mimpimu? Masihkah sekali kau ingat cerita sebuah buku? Apa kau masih menyimpan memori masa kecil dulu?
Aku ingat buku terakhir yang kau kirimkan untukku. Sampulnya warna merah jambu. Buku yang tidak asing sejak masa kanak-kanakku. Bergambar mawar dan kupu-kupu. Dulu, di surau kampung kita selalu berebut buku itu.
Kekasih, dalam hidupku tiada bisa menduakan ingatan. Bukan sebab aku menulis menjadi puisi kerinduan. Bukan pula sebab kau terlalu agung aku lewatkan. Semua kini berserakan di kepalaku, bait-bait mati tanpa tuan. Seperti buku-buku darimu yang berdebu pada tiap lipatan.
Kekasih. Aku ini perindu yang payah. Membaca lakumu kini menjadi susah. Merayu puisimu terasa entah. Luka darimu di dada sesak tanpa darah. Ah, benar payah.
Lalu, bagaimana lagi aku bisa mengikuti inginmu untuk melupakan masa kecil dulu. Sedang menahan setiap kalimat yang kau kirimkan pada buku-buku kenangan pun tak mampu aku lakukan? Kekasih, tidak kubaca satu lembar pun buku darimu, sebab hadirnya aku tahu, kau pun masih merindu.
Semarang 6 April 2018
Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
​Mencari alasan untuk Durian