Waktuku bersama Ibu; hari ini dua puluh enam tahun yang lalu

Setelah perjalanan selama enam jam, sampai juga aku di kamar kos. Tidak lama listrik pama, sepertinya jatah pemadaman bergilir bulan ini. Baiklah. Lilin dinyalakan separuh. Sebelumnya sudah dipotong menjadi dua. Potongan pertama sudah menerangi ruangan. Potongan kedua untuk jaga-jaga jika diperlukan menerangi ruangan lain. Aku tiba-tiba jadi teringat cerita Ibuku. Cerita itu dua puluh enam tahun yang lalu.
Malam itu tertanggal yang sama seperti malam ini. Seorang Wanita menahan sakit yang tiada duanya, dia akan segera melahirkan anak keduanya. Suaminya sedang pergi, sebab malam itu malam Jumat. Seperti lelaki di kampung pada umumnya, malam Jumat wajib hukumnya untuk menghadiri rukun warga yang dibarengi acara keagamaan seperti membaca tahlil dan Yasin. Wanita itu tidak sendirian, ada putranya. Seorang anak lelaki yang baru berusia lima tahun.
Anak lelaki itu menyalakan lampu minyak. Tentu saja dia belum bisa menyalakan petromaks. Ibunya menerang kesakitan. Di kuar sedang hujan, dan tepat lima menit sebelumnya listrik padam. Anak kecil itu berhasil menyalakan tiga lampu minyak untuk menerangi di kamar Ibunya, ruang tamu dan satu lagi sebagai penunjuk jalan. Lalu dia sibuk mencari senter dab payung. Dia ingin menyusul Bapaknya. Tidak ada kepanikan di wajah anak kecil itu, dia tahu bahwa dia harus meminta bantuan, walau hujan, walau lampu padam.
Wanita itu tidak tega melihat anak lelakinya keluar rumah seorang diri menembus gelap dan hujan. Payung yang anak lelakinya gunakan menutupi seluruh tubuhnya, begitu besar dan berat. Wanita itu takut jika angin justru merobohkan tubuhnya. Tapi sebuah senyuman dari anak lelakinya sebelum menutup pintu kamar, memberi kepercayaan bahwa anak lelakinya itu akan baik-baik saja.
Persalinan kedua ini begitu berat. Walau ini kali kedua bagi wanita itu menjalani proses melahirkan. Taruhannya tetap nyawa. Tentu dua puluh enam tahun yang lalu belum seperti saat ini, yang ada suami siaga, ada prediksi tanggal kelahiran dan lain sebagainya. Maka dukun melahirkan dari kampung sebelah adalah penolong yang ditunggu kehadirannya.
Tiga puluh menit. Wanita itu sendirian di dalam rumah. Kemudian anak lelakinya dan suaminya datang, di susul dukun kampung dan keluarga serta tetangga dekat. Jam sudah menunjukkan pukul 23:15. Proses melahirkan dibantu dukun kampung pun dimulai.
Tidak perlu waktu lama. Bayi lelaki menangis keras memecah sunyi dan harap-harap cemas. Tangisnya seolah ingin melawan hujan. Anak kedua wanita itu telah lahir, melihat dunia yang gelap dengan sedikit pendar cahaya lampu minyak, gemuruh hujan, juga kilatan petir yang menyembar.
Setelah bayi itu bersih, sudah diazani, lalu beriap untuk diberi asi. Wanita itu berulang kali menatap bayi mungilnya, memastikan berulang kali, apakah benar anak keduanya itu berjenis kelamin laki-laki. “Iyo lanang, anakmu lanang meneh” (iya laki-laki, anakmu laki-lagi lagi) suaminya membantu memastikan. Wanita itu tersenyum, ya dia tidak pernah bisa meminta rezeki tuhan apakah akan dikaruniai seorang anak laki-laki atau wanita seperti yang dia inginkan.
Dan bayi itu sudah besar sekarang. Sudah kuat dia menabrak karang kehidupan. Sudah berulang dia diminta melanjutkan keturunan. Bayi kecil dua puluh enam tahun lalu, tadi pagi kembali bangun tidur dan memeluk wanita yang kali pertama ia merasakan pelukan di dunia. Bayi itu tadi pagi menerima doa yang sama dari seorang lelaki yang dua puluh enam tahun lalu mengumandangkan suara azan di telinganya. Bayi itu tadi pagi digoda lelaki yang sama dua puluh enam tahun lalu mengajaknya bermain. Bayi itu anak ibu, bayi itu putra bapak, bayi itu dua bersaudara. Bayi itu masih sama malas minum susu. Terima kasih Ibu. Terima kasih.
Solo 3 April 2018
Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Puisi: Setelah Hujan Reda – Irwan Effendi