Hai kamu begini aku sekarang

Hai kamu, apa kabar rasa sepimu? Masihkah sama seperti kemacetan kota yang menjadikanmu membenci kenangan? Atau sudah berubah seperti perasaanmu yang tertinggal di kampung halaman?

Hai kamu, masihkah ada kalimat yang tertunda untuk kamu muntahkan? Seperti orasi yang biasa kamu lantang suarakan melawan moncong senapan?

Hai kamu, bagaimana kelanjutan hari-hari milikmu? Apa masih sama seperti puisi yang dulu rajin kamu kirimkan? Atau sudah berubah menjadi kata yang hilang dalam bait puisi malam?

Ah, begini aku sekarang. Masih saja terpenjara ingin. Pada keinginan yang agung, demi sebuah kabar rindu darimu. Ah, nyatanya memang tidak mudah. Bagaimana aku bisa benar melupa sumpah serapah.

Hai kamu, aku sudah berulang menjadikan namamu hilang. Setiap kali percobaan itu aku lakukan, setiap kali ingatan masa itu bermunculan. Ah, lelah memang. Tapi bukankah yang demikian harus aku nikmati sebagai bentuk kesendirian. Apa aku berlebih untuk mengurai segala kenangan?

Ah, sial. Kenapa aku lagi dan lagi kedatangan sorot matamu, dalam mimpi yang tidak usai dan mandi pagi yang mewajibkan serta membaca niat suci badan. Bukankah semua yang dulu pernah menjadikan basah, sudah purna kita jadikan pengkhianatan. Oh, beginikah rasanya merindu dosa dan doa yang dulu dengan bangga kita kibarkan.

Solo, 29 Maret 2018
Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Puisi: ini soal menunggu