Lahir ke bumi untuk mengomentari setiap lawakan


Di keluarga besar pasti kita memiliki satu atau dua anggota keluarga yang menonjol; memiliki karakter yang sangat berbeda oleh sebab itu kehadirannya dalam kumpul keluarga adalah menjadi wajib. Banyak yang merindukan, sebab itu pastilah banyak yang mendoakan kehidupannya.
Di keluarga besarku, yang sebenarnya tidak besar-besar banget mengingat anggota keluarga dari kakekku terbilang kecil. Ada satu nama yang menjadi buah kerinduan setiap acara kumpul keluarga. Danu namanya, anak ke empat dari adik Ibuku. Walau dia anak keempat, tapi dia menjadi anak pertama sebab ketiga kakaknya telah lebih dulu pulang ke surga sebelum merayakan ulang tahun pertamanya di bumi. Karena itu Danu sangat diharapkan.
Walau masih sangat muda, dia memiliki pengalaman hidup yang jauh dari usianya, pemikirannya tentang hidup berkembang pesat, tentu tidak lepas dari pengalaman yang berhasil dia ambil setiap pembelajarannya.
Danu pernah tinggal di Jogja bersamaku, aku membawa serta dia untuk lompatan yang lebih jauh dari sekadar menjadi pengelana jalanan di kota kelahiran kami. “Hidup itu tidak menunda kekalahan, hanya menunggu giliran untuk menang dan kita harus sabar sebab di bumi ada bermilyar manusia yang sedang antre” Danu 2016. Itu adalah kalimat yang dia ucapkan ketika bekerja sama denganku menghidupkan kembali kedai kopi di Jogja yang aku bangun sejak 2015.
Di Jogja, dalam perjalanannya dia lebih ingin belajar sablon. Oleh karena itu dia bekerja di sebuah tempat sablon, setelah merasa cukup membantu di kedai kopi milikku. Sablon baginya adalah keunikan tersendiri. Semakin banyak kawan, dengan usia dia yang jauh lebih muda dia menjadi pribadi yang menyenangkan dengan segala kepolosan dan cara menyikapi hidup yang blak-blakan. Ketika akhirnya dia memilih keluar dari Jogja, namanya masih sering muncul sebagai bagian kenangan.
Keluar dari Jogja, kemudian dia melakukan lompatan yang lebih besar lagi. Atas segala pengalaman yang dia kunyah; hingar bingar, kawan, kerasnya kehidupan, tawa, suka dan duka, juga persoalan pribadi yang melekat pada dirinya yang kian dirasa liar. Dia ingin menepi. Menjauh dari pulau yang tumpah darah pertamanya untuk menangis melihat dunia.
Kalimantan, adalah pulau yang dia tuju. Tentu bukan di kota, dia ingin tinggal di pedalaman, sebagai pekerja juga sebagai manusia yang mencari kesunyian untuk berbicara pada jati dirinya. Sudah hampir dua tahun dia di sana. Sudah hampur dua tahun pula dia tidak memberi kabar berita apa lagi sua.
Sebagai bagian dari anggota keluarga, dia juga saksi dari banyak perjalanan hidupku, memegang banyak rahasia. Yang selalu dirindukan adalah bagaimana dia selalu bisa hadir di tengah-tengah obrolan untuk mengomentari suka duka kehidupan sebagai lawakan. “Jika kamu bisa membuat aku tertawa jujur, maka separuh dunia membeku” Danu 2016
Yang aku mengerti Danu sedang menjalani laku menepi dari hingar bingar kehidupan. Menjauh dari kota dan keramaian. Puasa sosmed dan rayuan dangdut koplo di Yotube. Satu hal bahwa baginya lahir ke bumi untuk mengomentari setiap lawakan; “urpi ming mampir guyonan nek pas ono anggur yo melu ngombe sitik” Danu 1998


Menuliskan ini sebagai menyimpan ingatan untuk tetap tertawa bahagia disetiap keadaan, kecuali acara pemakaman, kalau pemakaman koruptor? Boleh tapi sedikit.
Jogja, 17 Maret 2018
Mudjirapontu

Latest posts by ryanarirap (see all)
Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Puisi: cinta angka-angka