Dialog takut dan berani

takut: “aku berani, sebab aku penguasa hari, aku pemilik situasi, akulah yang merajai bumi, sebab aku mampu membutakan mata mereka atas keburukanku”

berani: “aku takut, sebab mereka memuliakan aku, membenarkan perbuatanku, mengamini perkataanku, sebab aku tahu mereka tak pernah melihat siapa aku”

takut: “aku berani, mengunyah mentah apa yang salah, menelan bulat yang tak mereka lihat, sebab aku tahu mereka akan tetap membenarkan aku”

berani: “aku takut, menelan buah dari kebenaran, menunjukan hasil dari yang aku kerjakan, sebab aku tahu mereka akan memujiku”

takut: “aku berani, memamerkan diri, meluapkan benci, meracuni yang aku yakini, sebab mereka tak pernah bisa melihat salahku, sebab aku adalah kiblat”

berani: “aku takut, ketika hati haus akan puji, ketika keyakinan menjadi perhiasan pendongkrak gengsi”

takut: “aku berani, karena aku dan hanya aku yang mengetahui kotornya diri ini dan mereka akan terus melihat cahaya yang aku buat sendiri”

berani: “aku takut, ketika bersihku tampak, dan kotorku bersembunyi”


kembali diingatkan oleh Facebook dengan Tulisan lama 2 tahun yang lalu 15 Maret 2016: Dialog takut dan berani

dan pagi ini; selamat pagi ketakutan, aku rindu rambut gondrongmu yang berani.
Solo 16 Maret 2018
Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Puisi : Nyayian sunyi