Pelakor makanan macam apa itu?

Ramai di dunia maya soal pelakor. Beranda media sosial seperti tidak habis dengan postingan dengan tema pelakor. Apa sebenarnya pelakor itu? Makanan?
Oleh sebab aku tidak bisa menahan kabar berita di beranda media sosial yang aku miliki. Mau tidak mau aku pun membaca walau awalnya hanya sekilas. Lambat tapi pasti aku mulai mengunjungi beberapa Link yang menuju berita atau ulasan soal pelakor. Oh, sedih. Ramai kita bersama tertawa, marah, caci-maki, sumpah serapah. Lalu berpikir mencari jalan keluar? Tidak seserius itu kawan, kebanyakan berhenti sebagai bahan meluapkan emosi. Aku bisa jadi salah satunya.
Aku tidak begitu tertarik dengan pelakor. Tentu saja. Tapi aku lebih ingin melihat kenapa itu terjadi. Begini, kenapa ada pelakor? Jika pelakor itu adalah singkatan dari perebut laki orang, maka kenapa ada pelakor karena ada lelaki yang ‘mau direbutkan’. Mungkin. Ada keterlibatan lelaki.
Tapi dari berbagai postingan yang berseliweran yang menjadi objek hanya satu ya si wanitanya yang kemudian dijuluki sebagai pelakor. Lelaki? Hilang entah ke mana. Bisa jadi dianggap sebagai korban, sebagai maklum, sebagai wajar, sebagai yang tergoda, sebagai tidak bersalah. Sebab semua sebagai yang sebaliknya sudah dipikul si wanita. Adil sekali.
Maksudku begini; bagaimana sebuah ‘perselingkuhan’ bisa terjadi jika tidak ada gayung bersambut. Tentu saja ada umpan dan ada ikan, maka kail akan diangkat ke permukaan dengan hasil tangkapan. Ealah itu perbandingan macam apa yang aku gunakan. Intinya dalam nalarku, perselingkuhan terjadi ya karena ada dua manusia wanita dan laki-laki yang sepakat untuk menjalani itu.
Wanitanya tahu bahwa lelakinya sudah beristri, sebaliknya lelakinya juga sadar dia sudah beristri. Nah maka perselingkuhan terjadi oleh kesadaran kan? Apa yang menyebabkan itu terjadi bisa banyak faktor, tentu bukan serta merta urusan kelamin, bisa urusan yang lain. Manusia sebagai mahluk sosial tidak hanya butuh melepas nafsu bukan?
Jadi sebenarnya pelakor itu terjadi bukan karena ada niat dari wanitanya tapi juga niat lelakinya, jadi sama saja. Masa iya wanitanya setengah mati kita cerca dan lucuti harga dirinya, eh lelakinya minum kopi sambil main Facebook dan tertawa. Enak sekali jadi lelaki seperti aku ini. Eh.
Pasar Klewer pas udan, 21-02-2018
Mudjirapontur

Latest posts by ryanarirap (see all)
Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Puisi: Wanti menari