Sah sudah kau bung; selamat menikah teman


Memasuki tahapan kehidupan setelah lulus kuliah dan bersiap menjadi angkatan kerja, nyatanya tidak mudah. Sebagian kawan yang belum siap bertabrakan dengan dunia kerja memilih untuk lanjut kuliah, ada juga yang memilih usaha. Aku pernah memilih usaha, walau akhirnya masuk barisan kerja, cari aman soal penghidupan, ya usaha memang tidak mudah perlu banyak pengalaman dan tentu saja tahan banting untuk gagal dan kembali mencoba. Bekerja ikut perusahaan pun sebenarnya demikian.
Pertanyaan sibuk apa sekarang? Kerja di mana? Bisa teratasi. Kemudian muncul pertanyaan lanjutan; sudah menikah? Kapan menikah? Jangan lupa undangannya! Ya, begitu. Itu tahapan selanjutnya setelah bekerja. Memang begitu, dan itu baik maka harus berbiak, guna berkembang biak.
Hari ini, aku menghadiri satu lagi acara pernikahan. Seorang kawan yang aku kenal pertama kali sejak tinggal dan kuliah di Jogja. Kabar apa lagi yang bisa begitu menggembirakan di bulan Februari yang oleh banyak orang disebut sebagai bulan penuh cinta dan kasih sayang, selain kabar pernikahan. Ya, sebuah kabar yang sangat bahagia tentunya. Aku menyaksikan sebagai upaya kehadiran dengan dada yang sesak, meletup, dan benar-benar bahagia sekaligus bangga.
Dia kawanku, lebih dari itu dia sudah menjadi saudaraku. Walau menghadiri pestanya adalah sebuah keberanian yang harus aku lakukan. Keberanian untuk mendapat pertanyaan dari kawan yang lain; kapan kamu menyusul? Tidak apa, memang harus begitu agar aku berusaha bergerak maju mendirikan panggung pernikahanku.
Menikah bagiku, bukan perkara mudah, oleh karena dalam pernikahan melekat tanggung jawab besar. Ketika ijab qabul pernikahan telah diselenggarakan sesuai syarat dan rukunnya, maka wajib hukumnya seorang laki-laki untuk mengambil alih tanggung jawab besar seorang anak perempuan dari ayahnya.
Aku kira sahabatku sejak hari ini telah sampai pada tahapan selanjutnya untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar. Melepas perlahan kebebasan dan ego seorang diri dan membagi segala yang ia miliki; waktu, pikiran, tenaga, materi dan perasaan. Sudah sah kamu sekarang bung, selamat merajut, menjalani hidup yang baru.
Ketika senja, pada pohon rambutan, pohon alpukat, dua kucing yang bermain, satu kucing tertidur, suara pesawat, kereta api dan deru mesin menembus kemacetan. Aku terdiam. Lalu jariku menulis ini, sampai aku tidak tahu bagaimana aku mengakhiri. Aku sudah jauh, pada umur dan perjalanan yang kadang melelahkan, pada Ibu dan segenap harap yang aku tinggal di kampung halaman.
Aku ingin segera, memulai langkah menuju arah kehidupan yang baru, kehidupan yang tidak lagi menjadi puisi sendiri, kehidupan yang tidak lagi soal perjalanan malam yang sunyi. Kehidupan yang ada kamu juga aku setiap menuju tidur dan memulai pagi. Di mana kamu? Sungguh aku menunggu.
Yogyakarta, 18-02-2018
Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Dialog takut dan berani