Berteduh

Roda-roda gerobak. Tenda tak rapi. Sebagian sobek atapnya. Hilir mudik sepeda motor. Mobil melaju cepat. Becak di kiri jalan. Suara azan. Hujan yang tersenyum. Basah. Air menggenang di jalan. Sampah hanyut. Angin menyapa. Iklan liar beterbangan. Lelaki tua mantap, berjalan dengan tongkat. Bayi menangis. Burung gereja bermain. Aku duduk. Segelas kopi dan sebatang rokok.
Aku menjadi pendiam. Memandang sekeliling. Oh, bumi apa benar bulat dan bergerak? Seperti pergerakan yang hidup dan mati di tubuhnya? Semua keberlangsungan yang aku saksikan, bisakah rehat sejenak? Sebentar bukankah rehat adalah keberlangsungan?
Aku pejamkan mata. Gelap. Suara perlahan mulai kian nyaring, volume yang sama hanya telinga yang menjadi waspada. Suara rintik hujan merdu, obrolan manusia, deru mesin menjadi irama, burung gereja, toa, dan sampah. Menyatu menjadi lagu. Oh, sendu merayu.
Seorang wanita berteduh. Pada tenda yang sama denganku.
“Kamu?”
“Ya?”
“Aku..”
“Ingat”
Lalu diam. Memandangi hujan, memandangi sekeliling, memandangi masa lalu. Pada kenangan dan hujan yang telah lalu. Dan segala keberlangsungan menjadi begitu lambat, sedang aku sudah sangat ingin melesat. Pergi.
Gajahan, 15/02/18
Mudjirapontur

Latest posts by ryanarirap (see all)
Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Perihal Melepaskan Melupakan Mengikhlaskan dan Memaafkan