Nanda dan Youtube


Akhirnya Nanda (Keponakan saya) bisa membuka Youtube, walau belum bisa melakukan pencarian, wajar saja belum bisa mengetik walau sudah tahu baca tulis setingkat anak PAUD jaman sekarang.
Saya sempat kawatir, begitu juga kakak ipar saya (Ibunya), tapi tidak kakang saya (bapaknya). Padahal kekawatiran saya adalah soal Youtube itu juga digunakan kakang saya buat nonton video dangdut koplo yang kadang nyasar ke biduan sexi. Kalau buka Youtube sudah ada saran dari Youtube berdasarkan hasil pencarian dan tayangan yang ditonton sebelumnya. Maklum HP yang digunakan bersamaan, antara WA Ibu saya, Jualan Buka Lapak Ipar saya dan dangdut koplo Kakang saya juga mainan ponakan saya. Sederhana, saya memang mengisi paket internet di nomor Ibu saya dan Ibu jarang menggunakan kuota, yang akhirnya bisa dibilang sisa sampai 90% kalau tidak dibantu menghabiskan oleh ipar dan kakang saya.
Tapi ketika melihat bahwa Nanda mengerti sisi baik dari Youtube saya mulai mengerti, bahwa anak-anak punya filter tersendiri atas apa yang mereka ingin konsumsi. Entah bagaimana caranya dia bisa menemukan saluran cara menggambar. Ya Nanda suka menggambar, dan dia berlatih menirukan tutorial menggambar dari Youtube, setelah mendengarkan lagu Havana sambil joget tentunya.
Walau demikian, dari jauh saya tetap pantau akun Youtube yang melekat di HP Ibu saya, agar tidak ada saluran yang belum pantas untuk Nanda tonton dengan rajin membuang rekomendasi dan menaruh banyak rekomendasi sesuai usia Nanda.
Saya senang bukan buatan setiap kali pulang ke rumah Ibu dan mendapati Nanda sedang menggambar. Buku gambarnya sudah bertumpuk, semua hampir terisi imajinasi liar seorang anak yang bebas. Pun ketika akhirnya dia mulai belajar dari Youtube dia tidak meniru persis, dia tetap menambahkan cerita lain dari gambar yang dia ciptakan.
Selesai menggambar dia akan bercerita kisah di gambar yang dia buat. Kalau hatinya sedang plong dia tidak keberatan dikomentari dan lebih sering meminta dinilai, tapi kalau sedang agak rewel jangankan dikomentari dilihat proses menggambarnya saja bisa mengamuk, lalu cari tempat sepi untuk menggambar tanpa ada yang bisa melihat dan mengganggu. Sudah kaya seniman saja.
Mbah Kakung (Bapak saya) adalah juri paling kejam jika menggambar Nanda adalah sebuah audisi. Beliau bisa kasih komentar pedas misal dengan pertanyaan “Kenapa rumahnya kecil, orangnya besar?” kadang Nanda bisa menjawab dengan cerdas “Orangnya makan, rumahnya tidak”, lalu Bapak mangut-mangut dan kasih nilai, nanda gembira. Kami sekeluarga gembira, lalu Nanda lanjut menggambar lagi.
Di ruang keluarga, kami biasa berbincang soal Nanda yang punya cita-cita jadi dokter, tentu saja soal berapa nanti biaya untuk kuliah kedokteran. Kalau sudah begitu saya menyeletuk sambil melirik nanda “Jadi dokter itu cita-citamu, tapi menggambar juga lebih baik untuk dompet bapak ibumu” tapi anak adalah harapan, dan manusia hidup sebab ada harapan, maka cita-cita anak itulah harapan.
Kauman, 31 Januari 2018
Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Dosa rindu ini milik siapa?