Telanjangi aku sampai mengigil

Hujan kian rajin menyapa, sudah dua minggu sebelum senja. Kamu pasti tahu apa yang aku rasakan, senja dan hujan adalah dua hal yang menyisakan kenangan. Sepertinya menolak hadir dalam waktu yang dibawa serta takdir serta gemercik air, bukanlah sebagai jalan aku lahir. Walau sudah berulang aku mencoba, masih sama, kalah dan pasrah.
Hujan dan senja, aku tersiksa. Pada rindu, pada pengulangan waktu, pada kenangan, yang berujung pada seluruh ke tidak kemungkinan. Aku memang lemah, seperti setiap pandang matamu yang tak berani sekalipun aku kunyah, menelan pahit sebab senyummu berubah setiap waktu lebih mampu aku telan dalam-dalam.
Di balik hujan dan senja kelabu yang merayu untuk meneteskan air mata, aku tahu persis kamu sedang tertawa. Kamu sedang di beranda depan rumahmu, menikmati seduhan teh kesukaanmu, meraya ruang sua, berbicara pada kawan hidupmu. Tak sedikit pun ada senja yang mampu menghadirkan aku. Kalaupun hujan dan senja kelak akan mampu mengusik teh hangatmu, sebab ada aku. Aku paham, kamu akan segera menelanjangi segala kenangan sampai habis, mengubur dalam-dalam, dan merobek hatimu sendiri agar terluka dan membenci aku kembali.
Ketika akhirnya tiba, aku siap kamu telanjangi. Tidak usah lagi kamu merasa sungkan, sebab dari dulu kamu ingin. Pun kini aku tak lagi peduli. Selain aku, pada barisan yang sama di depanku sudah habis mereka ditelanjangi. Mengigil, sendiri, sunyi.
Kauman, 27 Januari 2018
Mudjirapontur

Latest posts by ryanarirap (see all)
Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
​Obrolan Senja di Kereta Malam