Kekasih pada akhirnya aku

Aku pikir akhirnya aku benar-benar bisa tahan, dengan segala gelombang dilema yang tak berkesudahan. Kalaupun katamu, lebih baik aku segera menyingkir, belajar mencari pegangan lain. Tapi, kali ini memang tidak mudah. Kesempatan sudah termakan usia, pada poster yang aku baca, pada setiap berita yang kamu kirimkan. Tapi setiap malam, dilema itu memang tidak ingin menjadi teman, ia sama sepertimu, memberi satu solusi, agar segera menepi dan mencari pegangan.
Kekasih, benar katamu dulu itu bahwa soal mencari penghidupan tidak pernah akan usai, itu belum lagi jika dalam diri banyak kehendak yang sudah ditulis di masa depan yang juga tidak pasti. Pada akhirnya, hidup sekarang adalah seperti yang kamu gambarkan, ini hanya soal bertahan untuk tetap bisa makan, berharap ada sesuatu dibawa pulang. Tapi, apa sesederhana itu kemudian untuk aku memilikimu? Bukankah ada soalan lain, seperti di waktu yang lain ketika kamu mulai merinci biaya mengundang kerabat untuk menjadi saksi sebuah pernikahan? Setidaknya ada meja makan yang tersaji dengan rapi, ketika kita sepakat mengikat hidup dalam janji suci.
Tapi soal kerja, apa aku terlalu memilih. Seperti kamu tahu, aku sudah jauh terjun bebas menjadi apa yang aku bisa dan tidak bisa, bersetan dengan segala yang ada di kepala. Aku sudah tidak lagi bisa bernafas panjang untuk mengejar yang aku impikan, soalan yang ada dan mendesak adalah bertahan untuk tetap makan. Lalu, pada malam ketika lembaran kertas mulai menepi dari kepala, ternyata kebahagiaan dalam 24 jam itu telah purna aku gadaikan, bahkan aku jual tanpa tawar menawar. Setidaknya aku bisa tidur dan kenyang, esok berulang. Pun setiap kali tanggal ambil gaji yang aku lingkari tiba, nyatanya tidak jua mengembalikan bahagia dengan percuma, aku perlu menebus kembali kebahagiaan yang aku gadaikan, lalu habis, lalu berulang aku gadaikan lagi, satu bulan ke depan. Begitu, terus dan terus.
Kekasih, sebenarnya aku lelah. Ketika aku kira aku sudah bisa tahan. Ternyata ini bukan yang aku cari. Ada hal yang tersembunyi dari setiap yang kita jalani, dan yang tersembunyi itu sejatinya yang harus kita cari dan ambil untuk menuntun hidup ini. Apa mungkin kamu siap menua bersamaku, jika separuh lebih waktuku telah aku jual, pun kebahagiaanku sudah habis aku gadaikan?
Kekasih, kamu pun tak pernah tahu. Sebab kamu hanya imajinasi yang aku buat untuk menemani kesendirian. Kekasih, pada akhirnya aku hanya mampu menceritakan keluh kesah yang aku alami dalam teks. Jika suatu saat kamu bersua pada ruang mayaku ini, mengertilah aku sedang berbicara padamu walau aku dan kamu tak pernah mengenal dalam hitungan waktu yang lalu.
Kauman, 23 Jan 2018
Mudjirapontur

Latest posts by ryanarirap (see all)
Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Road in woods
Quote post format