Cerita Kemarin; dari tas tertinggal sampai motor mogok tanpa alasan


Hai teman, aku kembali lagi dengan cerita sehari-hari yang kamu tidak pernah menanti. Tidak apa. Aku tetap bercerita. Untukmu. Jangan protes, kamu hanya perlu membaca, biar aku yang menuliskannya. Baik, kita mulai walau masih sangat pagi. Menulis ini di kamar kosku yang tanpa celah untuk cahaya matahari masuk.
Cerita kemarin. Kemarin adalah hari yang bisa aku katakan serba pertama kali. Ya dalam beberapa hal, tentu saja ini berhubungan dengan pekerjaan. Mengingat kemarin hari kerja. Aku tidak bisa cuti seperti Jejes temanku yang di Medan sana. Kalau aku bisa cuti, kemarin adalah hari cutiku. Haduh, kerja juga baru berapa bulan sudah pengen liburan. Lupakan.
Pagi-pagi sekali, aku dan salah seorang teman sebut saja namanya Kertas (karena biasa membawa kertas) berkunjung ke salah satu mitra kerja kami sebut saja Ibu Plastik (karena usaha plastik daur ulang). Aku yang selama ini mengendarai mobil manual (minjam), kemarin untuk kali pertama harus mengendarai mobil matic, ya mobil si Kertas, sumpah rasanya kaku. Tapi ternyata menyenangkan untuk jalanan kota yang mulai ramai dan di beberapa titik terjadi kemacetan.
Semua berjalan lancar. Ketemu dengan Ibu Plastik, ngobrol dan langsung ke poin kerjaan. Lalu pamit. Aku kali pertama bertemu Ibu Plastik, juga kali pertama datang ke pabrik daur ulang miliknya. Entah ada apa, Kertas tergesa-gesa setelah pamit, aku pun ikut kesetrum tergesa-gesa menyusul menuju parkiran yang agak jauh dari tempat bertemu. Lalu kembali ke kantor. Nah sampai kantor baru aku sadar tas kerjaku tertinggal di tempat Ibu Plastik. Bagus. Kesan yang romantis.
Setelah pulang dari tempat Ibu Plastik, tanpa tas. Aku langsung pergi menemui janji yang lain, bersama atasanku dan rekan kerja yang lain sebut saja rekan kerja ini Madu, karena dia manis. Dari atasan dan si Madu ini, kemarin menjadi kali pertama aku mendapatkan kesepakatan kerja sama baru di tahun 2018.
Alhasil aku lupa makan, karena pergi bersama mereka berdua selepas makan siang, sedang ketika makan siang aku masih di jalan bersama si Kertas, sampai kantor langsung pergi. Maka kemarin menjadi pertama kali aku telat makan siang sampai berlangsung makan malam di tahun 2018.
Nah sore hari, aku kembali ke pabrik daur ulang Ibu Plastik, sampai sana beliau sedang tidak ada di tempat. Sebenarnya tidak jadi soal tasku tertinggal, toh besok bisa aku ambil, yang jadi soal adalah kunci motor dan kos ada di dalam tas itu. Maka terpaksa harus diambil hari itu. Sebab menunggu tidak mungkin aku dan Si Kertas kembali ke kantor.
Sekitar jam 17:14 Ibu Plastik menghubungiku, mengabarkan kalau beliau ada di tempat, akan pergi dan tasku sudah beliau titip di pos satpam. Baikalah aku harus ke sana. Sebab jalanan mulai padat merayap, aku tidak mungkin bisa cepat waktu sampai jika menggunakan mobil (mobil kantor) sedang motorku tidak ada kuncinya. Untung ada teman dari cabang lain main ke kantor, aku pinjam motornya.
Semua berjalan normal. Tas aku dapatkan, siap kembali ke kantor, karena ada SBPU aku inisiatif isi bensin dulu, mengingat indikator bahan bakar mentok di E. Isi pertalite full. Nah si motor metic ini entah kenapa ngambeg, sudah diberi pertalite full malah enggak mau hidup. Kenapa ya? Aku coba minta tolong orang di sekitar, siapa tahu ada yang paham soal metic, maklum ini kali pertama pinjam motor ini dan mogog tanpa alasan. Tadi hidup, cuma di isi bahan bakar, dihidupin lagi enggak mau.
Aku telepon pemilik motor metic ini. Sebut saja namanya Baja Hitam. Dia menjelaskan panjang lembar, memberi instruksi penanganan yang tepat. Aku terapkan dan gagal. Aku telepon lagi, suruh cek oli. Aku bingung kok oli, tapi aku nurut, walau aku enggak tahu olinya diapain. Akhirnya aku putuskan parkir di Musala SPBU, memesan Gosend, untuk mengantar kunci motorku ke temanku si Baja Hitam agar dia menjemput di SPBU, sementara aku shalat magrib.
Baja Hitam datang. Coba cek motor miliknya, coba dihidupkan. Nihil. Analisa Baja Hitam oli motornya habis karena menguap. Sedang bengkel sekitar sudah tutup dan memang jarang bengkel di sepanjang jalan daerah itu. Untung saja Baja Hitam punya bengkel langganan yang biasa buka sampai jam 22:00, aku sempat tidak percaya, tapi ternyata benar ada. Aku mengendarai metic mati itu, di dorong dengan kaki oleh Baja Hitam. Cukup melelahkan. Cukup repot. Cukup berbahaya ketika berada di jalan utama. Maka jalan tikus yang kami cari. Dan sampailah di bengkel langganan Baja Hitam.
Oleh montir segera di cek, oli di cek dan oli masih ada tidak masalah. Lalu apa masalahnya? Tidak tahu. Karena Baja Hitam ada janji dengan istrinya, maka aku antar dia ke rumahnya, itu untuk kali pertama aku tabu rumah Baja Hitam. Motor miliknya kami serahkan sepenuhnya pada pihak bengkel. Pagi ini apakah sudah jadi atau belum, aku belum tahu. Semoga sudah dan jangan mahal-mahal biayanya sebab awal bulan dan awal tahun seperti ini keuangan sedang tidak pasti.
Kauman, 04 Jan 2018
Mudjirapontur


Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
tak lagi tahan