Apa yang aku suka dari Wanti ?


Tepatnya Jumat malam di Paragon, seorang teman yang baru aku kenal satu bulan ini ternyata sudah membaca beberapa tulisan di blog ini. Aku tidak tahu dari mana dia bisa sampai ke blog ini, seingatku aku tidak pernah memperkenalkan alamat blog ini. Tapi itu bukan inti, bisa saja setiap orang tersesat di mesin pencari Google, temanku mungkin mengalami itu.
“Apa yang kamu suka dari Wanti” ucapnya, ketika aku sedang membolak-balik buku menu. Aku segera meletakan buku menu, menatapnya tajam, dan kami saling diam dalam pandang.
“Wanti?” aku justru bertanya kebingungan untuk memecah diam.
“Ya, Wanti yang dalam puisi dan kisah sehari-harimu itu” ucapnya mantap. Aku garuk-garuk kepala yang tak gatal. Lalu kami tertawa.
Apa yang aku suka dari Wanti? Ini adalah pertanyaan yang aku sendiri tidak pernah ingin mengucapkannya. Jujur saja aku tidak tahu jawaban yang tepat, bagiku suka saja. Mungkin karena suka terkadang tidak butuh alasan.
Dulu, ketika nama Wanti pertama kali aku tulis dan baca sebagai puisi, seorang teman menerjemahkan puisiku untuk Wanti sebagai pelarian dari patah hati. Aku sempat menduga demikian, tapi ternyata tidak. Aku tetap terikat pada masa laluku, pada sakit hatiku, dan di bagian yang lain juga terikat pada Wanti walau sekali pun aku belum berjabat tangan sebagai tanda perkenalan. Wanti bukan obat yang bisa menyembuhkan luka dari perjalanan sebelumnya, Wanti juga bukan imajinasi yang bisa menutupi kenangan masa lalu. Wanti adalah Wanti, membawa dunianya sendiri, dengan atau tanpa Wanti masa lalu akan ada, dengan atau tanpa masa lalu Wanti pun akan tetap ada.
Aku suka Wanti, itu saja. Persoalan bahwa dia tidak seperti yang ada dalam pengamatanku itu soal lain. Aku hanya bisa suka, dengan segala hal baik yang aku lihat dari Wanti.
“Jika Wanti tidak seperti yang kamu kira?” temanku itu mulai kepo akut.
“Mungkin aku tetap suka” jawabku cepat.
“Mungkin?”
“Ya”
“Ada ragu dalam kata mungkin”
“Aku tetap suka Wanti”
“Tapi..?”
Tapi bisa saja aku tidak lagi suka Wanti. Tapi apakah landasan suka harus sesuai yang aku bayangkan tentang Wanti selama ini? Karenanya aku sematkan kata ‘mungkin’ sebagai satu keyakinan bahwa semua akan kembali pada pemilik rasa, Tuhan. Bukankah segala tenang Wanti aku yang menciptakan, Wanti tidak pernah mencipta dunia untukku, tapi tanpa sadar dia menjadi bagian untuk aku mencipta dunia Wanti dalam bayanganku sendiri.
Jika Wanti tidak seperti yang aku bayangkan, lantas aku tidak lagi suka Wanti, mungkin aku harus banyak belajar, bahwa aku baru sampai pada tahapan rasa yang paling luar, aku suka sebab ada kelebihan Wanti yang aku suka. Lantas muncul banyak kekurangan Wanti aku pergi. Jika aku seperti itu, maka untuk apa aku mengamati Wanti selama ini, untuk apa aku mencipta dunia Wanti.
Dalam dunia Wanti yang aku bangun, aku justru akan menikahi Wanti, ketika aku benar-benar tahu kekurangan Wanti pun dia benar-benar tahu kekuranganku. Tapi sebelum sampai pada keberanian untuk menikahi Wanti, aku ingin mencintai dia dengan diam-diam, sebab aku yakin dia pun sedang mencintai aku dengan diam-diam.
Aku dan Wanti hanya perlu titik temu yang tepat, untuk saling menjabat tangan dan berkata “Aku akan menemani hidupmu, dengan segala kekuranganmu, menerima masa lalumu, mendukung langkahmu, menyatukan aku menjadi kamu, berada di sampingmu sampai akhir hayatku” ketika kalimat itu sudah terucap, maka dunia Wanti yang sebenarnya mulai dibangun, menjadi apa dunia itu, sampai akhir hayat baru aku tahu, saat kematian ada Wanti di sampingku.
Wonosobo, 30 Des 2017
Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Kidung Cinta Jalaluddin Rumi – Tanpa Cinta, Segalanya Tak Bernilai