Aku ini pembunuh tanpa dosa


Sahabatku, dalam mimpi pun kamu tidak lagi mau bertemu. Bagaimana aku bisa bersua dan mendengar kamu yang suka bicara. Seperti apa lagi aku harus mendekatkan diri, lalu bicara dari hati ke hati? Bukankah sebelum era ini di mulai, kita sudah sering berdarah, saling kencang otot, dan kita sama tak mau mengalah. Lalu esok baik lagi, lalu coba buka selisih lagi. Tidak jadi soal.
Jauh kita dianggap dewasa. Aku tidak lagi melihat kamu sebagai kekasih yang setia pada hidup. Kalau pun telah berbusa segala fatwa, data, kau ucap soal hidup. Aku tidak lagi yakin kamu benar mengerti soal hidup menghidupi. Kalau pun separuh usia aku mengenalmu berjalan pada garis pemberi hidup. Mungkin begitu sebaliknya kamu melihatku.
Setiap pertandingan yang kau tiup peluitnya dengan kemarahan, berapi menjadi benar sendiri itu ada yang tersungkur ke pojokkan, terinjak, lalu mati. Kematian ketika nyawa masih setia bersemayam di badan. Kamu tahu kematian semacam itu lebih beribu kali menyakitkan, sebab kita sama tahu rasa mati belum pernah kita rasakan, tapi mati pada nyawa yang masih hidup, kita tahu sakitnya.
Dan kamu memberiku umpan yang siap aku santap, untuk membunuh nyawa-nyawa yang setia di raga mereka, agar merasa mati dalam hidup yang masih harus dijalani. Jika aku menolak, kau kata aku sama dengan mereka, lalu halal bagimu.
Berbekal tagar (#) boikot, satu dua orang kehilangan sarapan paginya, satu dua lainnya kehilangan pendapatannya, satu dua lainnya kehilangan kehormatannya, lainnya lagi kehilangan harga dirinya, lainnya lagi kehilangan hidupnya. Kata, pada kalimat, memang lebih tajam dari senjata. Dan kamu pandai sekali meramu kata yang siap sedia memenggal siapa saja yang berbeda pada maya. Aku ada di belakangmu, sebab di sampingmu kamu curigai aku, itu pun masih saja kamu halalkan aku jika sekali dua aku diam tidak menggubris kata-katamu yang bertebaran di beranda mayaku.
Aku ini pembunuh. Pembunuh tanpa dosa, tanpa terasa, hanya puas, lalu tertawa, membela yang entah apa, melawan yang entah mengapa, bertahan atas dasar apa, berjuang demi apa, tiada tahu apa dan mengapa tapi aku dan kamu suka. Dan membunuh tanpa dosa, tanpa darah, tanpa luka, tanpa tatap muka, tanpa suara, satu nyawa hilang sedang hidup masih terus harus berjuang, banyak yang menjadi mati sebelum jasad di kuburkan. Dan aku di sana, menjadi peramu senjata kata-kata, yang membunuh sesama, tanpa merasa ada dosa. Sebab dalam kata-kata maya aku dan kamu selalu merasa suci, merasa benar dan telah berbuat banyak sebagai penolong umat, walau dengan sadar tetangga sebelah kelaparan dan jual diri demi menunda mati.
Kauman, 27 Des 2017
Mudjirapontur

Latest posts by ryanarirap (see all)
Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Jika ini pertanyaan anak kecil, kamu tahu jawabnya?