Di senja mendung itu ada rindu


Ya, aku berhenti di tempat biasa. Kali ini tanpa sebab terjadi sua. Pandanganku jauh mencari senja. Pada cahaya yang biasa menjadi kalimat cinta. Tiada. Berganti mendung, pada hujan siap menyapa.
Benar dugaanku, hujan berlangsung ketika baris ini aku tulis. Lalu pertanyaan ‘di mana’ hadir tanpa sebab menjadi alunan ritmis. Getaran itu pun muncul, menembus mendung membuai aku pada kenangan dan tangis. Ah rindu mengapa berwajah sadis.
Aroma hujan, kucing berlari, kopi basi, tak jua mampu melenyapkan wajahmu yang menari. Ah cinta mengapa dulu mudah pergi, jika menjadi sakit ketika menagih ingatan untuk kembali. Ah rindu kau tak bosan hadir lagi dan lagi.
Sorowajan, 26 Des 2017
Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Puisi: udin kawanku