Jika ini pertanyaan anak kecil, kamu tahu jawabnya?


Akhirnya kita sampai pada waktu yang tepat. Setelah lama menunggu, sebab kamu mendominasi Ibu, atau Ibu yang mendominasi akan dirimu sejak kedatanganmu kemarin sore. Pagi ini kita duduk di ruang tamu yang sama, di rumah yang sama, walau katamu sudah banyak yang berubah, tapi ruang tamu itu masih tetap sama. Seketika kita bernostalgia tentang banyak hal yang pernah kita lakukan di ruang tamu, sampai kita saling diam, memerah malu di hadapan suamimu. Untung saja anakmu sedang sibuk dengan Ibu jalan keliling desa.
Aku senang sebab kau datang, meleburkan rindu Ibu dengan tangis yang membuat aku pilu. Pilu yang mewangi, pilu yang merekah, pilu yang itu, pilu yang aku kenali, pilu yang sudah lama aku rindu. Ah, aku senang, sudah begitu.
“Terima kasih, sudah memperkenalkan aku di keluargamu mas” ucap suamimu tiba-tiba, ketika kita mulai diam.
“Terima kasih itu dariku, sebab keluarga kecilmu mau menemui Ibu di hari besar yang seharusnya sedang kalian rayakan dengan keluarga besar” jawabku.
“Di luaran sana, masih ada yang sibuk mencari perbedaan, dan di rumah ini kita merayakan persamaan, jika saja dia menceritakan sejak lama, aku tak perlu menunggu waktu libur untuk main ke sini” ucap suamimu, sembari melirikmu manja. Aku diam lalu tersenyum.
Benar kata suamimu, ada banyak perbedaan yang tidak akan pernah habis untuk kita cari dan perdebatkan, dijadikan bahan untuk saling menjauh, dan masih saja ada yang betah berlama-lama untuk sibuk mencari celah perbedaan. Tapi kesibukan semacam itu untuk apa, jika persamaan lebih menyenangkan untuk kita rayakan dan menangkan bersama selagi menjadi manusia.
“Sudah, jangan mulai menjadi yang di luaran sana” ucapmu kemudian, aku dan suamimu saling lirik, seolah siap bersekongkol.
“Pernah berpikir, kenapa kita harus lahir dengan label yang berbeda?” suamimu lebih dulu mengambil pertanyaan. Aku diam, memperhatikan wajahmu yang mulai kesal.
“Dan kenapa segala warisan label itu harus melekat tanpa ada kesempatan memilih?” aku menambahi, dan kamu semakin kesal.
“Pertanyaan kalian itu, pertanyaan anak kecil” ucapmu kemudian.
“Jika begitu, apa kamu tahu jawabnya?” aku dan suamimu hampir kompak menanggapi. Kamu diam, aku diam, suamimu diam.
Aku teringat banyak hal, dari perjalanan yang aku lakukan dan bertemu banyak manusia yang tanpa sadar telah menjaga kemurnian sebagai manusia sejati. Pertanyaan anak kecil seperti yang kamu katakan itu adalah pertanyaan tersulit yang aku tak pernah tahu jawabnya sampai hari ini. Pun ketika pertanyaan itu muncul, selalu jawabnya berdasarkan keyakinan atas doktrin layaknya manusia dewasa dengan segala keyakinan yang sudah melekat sepanjang hidupnya. Maka yang akan muncul selanjutnya adalah saling membentengi dengan kebenaran masing-masing, lalu sibuk mencari perbedaan, lupa begitu banyak persamaan yang menyenangkan untuk dimenangkan.
“Sepertinya Ibu melewatkan sesuatu?” ucap Ibu yang tiba-tiba datang bersama Bapak dan anakmu.
“Dia mulai lagi Bu” jawabmu sembari menunjuk ke arahku.
“Hahahahaha” aku dan suamimu tertawa.
“Ini baru anak kecil” ucap suamimu, dan kamu manyun. Kami semua tertawa, tak terkecuali anakmu.
Lalu dari Bapak kita mendapatkan banyak jawaban. Aku setuju, kamu setuju, begitu dengan suamimu, kecuali Ibu. Bagi Ibu, ketika pertanyaan itu masih butuh jawaban maka memang itu masih bukan pertanyaan anak kecil, sebab jika itu pertanyaan anak kecil seharusnya tidak butuh jawaban, sebab apa pun jawabannya tidak menjadi soal. Lalu aku setuju dengan Ibu, kamu setuju, suamimu setuju, Bapak pun ikut setuju sebab begitulah beliau selalu setuju dengan Ibu.
Puncaknya Nanda, Abangku dan Istrinya ikut bergabung di ruang tamu. Tidak lama, kue kecil pesanan Ibu tersaji di meja, dan kita berdoa dengan keyakinan masing-masing untuk segala kebaikan yang telah memberi kita hidup. Kamu dan suamimu tidak dapat berkata apa pun selain memeluk Ibu dan Bapak. Kamu menangis, suamimu menangis, aku tidak tapi dadaku sesak. Anakmu menangis bingung, lalu tertawa melihat kamu terisak dalam senyum.
Setelah menikmati kue dan teh hangat, kamu beranjak untuk masak bersama Ibu dan Isti Abangku. Kami para lelaki kembali ngobrol apa saja, mulai dari Madrid yang kembali kalah, Juventus menang atas Roma, pertandingan MMA, lawakan Sule, sampai harga bahan bakar yang naik turun tanpa terasa.
Hasil kolaborasi tiga koki dari tiga generasi sudah tersaji. Sarapan pagi ini nikmat sekali. Setelah usai secepat kilat para lelaki beranjak ke beranda samping, ya kamu tahu kami tak lagi tahan menunda untuk menghisap rokok bersama segelas kopi hitam di pagi hari, dan menuliskan ini.
Tuhan terima kasih keluargaku asyik.
Rumah Ibu, 25 Des 2017
Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Perihal Melepaskan Melupakan Mengikhlaskan dan Memaafkan