Boleh aku bertamu ke relung hatimu?


Kamu seperti aku, kita adalah generasi yang patah hati. Menjalani dunia dengan keberlangsungan yang seperti ini, ada yang tertawa di atas luka yang menganga, ada yang bahagia di tengah duka yang mereka cipta. Dan kebenaran adalah barang langka, pun tak menjadi mewah, tak menjadi pusaka, tak lagi dicari, hilang pun tiada peduli.
Kamu seperti aku, muak dengan segala yang dipertontonkan generasi tua, muak atas apa yang berlangsung oleh generasi muda, dan muak oleh kemuakkan itu sendiri. Tapi kawan, pada segala kemuakkan itu, bolehkah aku bertamu ke relung hatimu?
Kawan, aku adalah orang kalah atas keadaan, mengikuti arus sebab melawan tak lagi sebagai jalan. Aku adalah orang malang, mengkhianati hati nuraniku, menghianati keyakinanku, dan menghianati kemanusian yang ada dalam diriku. Aku tiada punya apa-apa lagi, aku habis oleh aku sendiri.
Aku, bisa marah melihat berita yang tak berkesudahan tentang perang di timur tengah, aku bisa marah melihat lautan manusia yang membunuh sesamanya dengan kata-kata, aku bisa marah melihat jual beli agama, aku bisa marah melihat artis lupa pakai mukena, aku bisa marah, bisa marah, bisa marah. Apa lagi kamu, saudaraku.
Tapi, apa aku tak boleh marah melihat negara menggusur rumah hidup tetanggaku? Apa aku tak boleh marah menyaksikan tanah pertanian yang direbut paksa militer atas nama perintah kuasa? Apa aku tak boleh marah melihat tetanggaku mempertahankan tempat lahir dan hidupnya? Apa tak boleh?
Aku hanya ingin diam sejenak, mendamaikan pikiran saat bersua denganmu. Aku tak bisa menghujat, membakar semangat, seperti keahlianmu itu, apa lagi memboikot, memblokir sistem yang langgeng di hidup manusia milenia. Aku tak bisa. Aku hanya bisa melihat yang dekat, merasa pada mereka yang nyata aku lihat, jika tanah harus bertukar darah, jika hidup harus disingkirkan demi kelangsungan semu, jika kemajuan meminta tumbal kematian, aku merasakan semua kemarahan.
Maka, bolehkah aku bertamu ke relung hatimu. Lalu kita berbicara sebagai manusia yang lahir tanpa agama, tanpa suku, tanpa nama, tanpa bangsa, tanpa bahasa, tanpa beda. Sehingga tiada saling curiga untuk kafir mengkafirkan di antara kita.
24 Des 17

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Pre Order Buku Kumpulan Puisi Pertama Memuisikan