Rindu malas bangun

Benar, ketika aku bangun sisa hujan masih setia. Rintik hujan, ini menjadi begitu romantis, mengalir seperti nada, bersama udara dingin yang mencuri masuk dari sela-sela jendela kamar. Ini menjadi waktu yang tepat, untuk kembali tidur. Ah tidak lagi sekarang.
Ibu, anakmu sedang rindu pagi ini, seperti rindu malam tadi sebelum akhirnya urung menelponmu dan tertidur, dalam mimpi kita tak bertemu.
Setiap kali hujan pagi hari, memutar ingatan pada tahun di mana aku susah bangun dan segera mandi, perlu sampai tiga mungkin lima kali Ibu merayu untuk segera bangun.
“Sholatlah dulu, soal kamu mau sekolah atau tidak itu urusanmu nanti” kalimat itu yang sering kali aku dengar, jika selimut masih saja aku tarik untuk kesekian kali. Jika sudah demikian, anakmu yang malas itu sekuat tenaga bangun, melawan dingin pagi.
Kini anak lelakimu itu tak lagi boleh menunda bangun, walau hujan dan dingin masih setia merayu. Pada kamar kos, segala ingatan ini berputar, dan aku rindu. Rindu mejadi malas bangun seperti dulu itu, Ibu.
Kauman, 21 Des 2017

Latest posts by ryanarirap (see all)
Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Puisi: sinetron