Pada angka-angka cantik yang kau puja.

Hai, senja ini kamu melintas di kepalaku tanpa alasan, menari manja begitu seperti hujan, dingin dan penuh kenangan. Ah, kau tahu betul aku memang kadang demikian, menjadi pemujamu sekali lagi walau hanya berani pada tepian. Hem, aku ingin mengetuk jendelamu yang kesepian.
Ketika dulu kamu kali pertama menjabat tanganku, hari dan tanggal yang kau pilih menjadi mudah mengingatmu. Lalu setiap hari berikutnya bersamamu, begitu hebat. Kau suka angka-angka cantik, runtutan yang pas, kembar dan sakral, aku setuju sebagai kemudahan mengingat setiap gelak tawa dan air mata bersamamu.
Ketika akhirnya kita sepakat untuk berkata cinta, kamu kembali menyoal angka, untung saja hari yang membuatku berdebar akhirnya mewangi bunga. Aku tidak bisa lupa angka itu, aku jatuh cinta pada angka itu, sampai hari ini ketika tiada lagi aku dan kamu.
Aku percaya, kamu masih ingat setiap angka yang kamu pilih dalam setiap cerita yang kita coba rangkai bersama. Tapi mungkin kamu lupa, angka di mana kamu memilih untuk menulis akhir dari setiap deretan cerita yang telah memanjang sebagai drama.
Hebatnya aku pun lupa, walau telah aku tulis bertahun lalu, telah aku simpan dalam kumpulan puisiku. Tapi aku lupa, kembali harus membuka dan membaca, lalu tertawa, hebatnya angka itu pun cantik, dan tiada lagi luka ketika aku membaca catatan kesakitan yang dulu kita sepakati sebagai akhir cerita menuju lembaran-lembaran baru masing-masing.
Hai, yang selalu aku puja, apa kamu masih setia memuja angka-angka?
121217
Mudjirapontur

Latest posts by ryanarirap (see all)
Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Berbicara pada tiga bebek di depan rumah