Kini kita berbicara jarak

Harus aku akui setelah beranjak meninggalkan Jogja aku menjadi kering untuk menulis, itu adalah kesakitan lain dari perpisahan. Setiap hari selalu ada yang menari di kepala, soal kerinduan yang riang gembira menghadirkan kesedihan, aku lemah ternyata. Dan ketika aku menuangkan rasa yang menari itu dalam anak-anak kalimat, aku terhenti, lalu diam, lalu tertidur, basah air mata.
Akhirnya kita berbicara jarak sekarang, menjadi perantau yang tak lagi bisa membuat jadwal kepulangan untuk Ibu, menjadi pencinta yang tak lagi bisa mengagumi keberadaanmu diam-diam. Ternyata ini begitu memilukan. Aku bahkan tak lagi mampu menulis puisi untukmu, Wanti.
Doa kini menjadi senjata satu-satunya yang aku miliki, untukmu dan juga Ibu. Meminta segala kebaikan, sehat dan kebahagiaan, aku percaya Tuhan jua yang menjadikan jarak ini terasa dekat dalam setiap rapal mantra doa yang semoga sama kita ucap.
Wanti, satu dari sekian hal yang ingin aku segerakan adalah memilikimu, mengajak Ibu segera datang ke rumahmu, dan berharap kau setuju begitu juga dengan Ibu.
Maka kepergian dari kotamu kini bukan lagi tanpa sebab, ada satu cita yang aku gantung di hari depan. Ini bisa jadi tak pasti, sebab aku belum juga berani menatap matamu, tapi siapa yang bisa membatasi aku untuk bermimpi, dengan segala yakinku akan rencana Tuhan.
Dalam jarak yang lamat-lamat mulai membuatku bisa menikmati detik menahun, aku ingin memulai segera, menjalani, lalu memetik hasil bersamamu.
5 Desember 2017

Latest posts by ryanarirap (see all)
Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Rasa-rasanya keberanian itu semakin mahal saja harganya