Belajar PDKT: Kontak Pertama dengan Lawan Bicara


Hai kawan pembaca, seperti sudah lama sekali saya tidak menyapa kawan sekalian, semoga dalam keadaan sehat dan baik, ada satu kesibukan yang sedang saya jalani sehingga harus memprioritaskan terlebih dahulu dan mengurangi aktivitas ngeblog. Seperti pernah saya singgung sebelumnya bahwa saya adalah individu yang mengalami kesulitan untuk menjalin sebuah hubungan baru; pertemanan, rekan kerja, dan hubungan kepentingan yang lainnya. Karena hal tersebut, saya selalu termotivasi untuk terus berlatih dan meningkatkan kemampuan saya dalam menjalin sebuah hubungan di lingkungan saya.
Pertemuan pertama selalu menjadi hal yang menarik dalam hidup saya, sebab hal ini sangat menentukan keberhasilan menuju proses selanjutnya. Misalnya saja, saya sebagai tenaga pemasaran, maka pertemuan pertama menjadi penentu keberhasilan saya untuk menjual produk saya, begitu juga dalam aspek lain, pertemuan pertama adalah kunci awal sebuah relasi dapat terbangun dengan baik.
Dari banyak pengalaman dan berbagai masukan yang saya terima, faktor penting yang mendukung keberhasilan dalam pertemuan pertama adalah komunikasi yang efektif dan kesan yang positif.
Bagaimana membangun komunikasi yang efektif dan memberikan kesan yang positif kepada lawan bicara di awal pertemuan? Harus saya akui, saya sendiri masih sangat awam dan sering kali gagal menerapkan poin ini. Tentu kita sebagai pribadi ingin mendapatkan relasi yang berkualitas, lebih lagi jika kita adalah tenaga pemasar, atau seorang pengusaha, maka hubungan yang baik dengan “sasaran pasar” adalah kunci utama. Sayangnya tenaga pemasar profesional pun masih banyak yang mengalami kegagalan dalam membangun kesan pertemuan pertama. Hal ini, menurut saya disebabkan kita belum mengenal calon relasi atau calon konsumen dari produk atau jasa yang kita tawarkan.
Baik, saya akan memberikan satu gambaran. Ketika kali pertama ingin memulai mengajak bicara dengan lawan bicara apa yang bisa kita gunakan sebagai kalimat atau kata pembuka? Misalnya, saya ingin melakukan PDKT kepada seorang gadis yang menarik perhatian saya di sebuah kedai kopi? Apakah saya bisa langsung bertanya namanya, alamatnya?  Tentu saja bisa, tapi apakah itu membuat si gadis merasa nyaman? Benar, jawabannya si gadis merasa tidak nyaman. Kita harus bisa membangun kalimat pembuka yang “lembut” ya berbasa-basi lebih dahulu sebelum masuk kepada poin inti untuk mengetahui nama dan alamat si gadis.
Nah sama halnya ketika kita ingin mengenal rekan baru, relasi baru atau ketika berbicara dalam urusan bisnis adalah untuk mendapatkan konsumen baru. Maka kita harus bisa menerapkan prinsip PDKT yang “lembut” sebelum masuk kepada maksud kita untuk menawarkan produk yang kita miliki.
Apa yang bisa kita gunakan? Saya menyebutnya sebagai konsep basa-basi. Lalu basa-basi apa yang bisa kita gunakan? Orang Indonesia, atau manusia pada umumnya memiliki kesamaan dengan manusia lain, juga memiliki sisi menarik dalam diri masing-masing. Misal pekerjaan yang berbeda, hobi, lingkungan pertemanan, keluarga, dan juga karakter dari diri sendiri. Jadi poin-poin tersebut bisa kita gunakan sebagai media untuk melakukan “pendekatan” alias basa-basi sebelum masuk kepada tujuan utama.
Pekerjaan; ada banyak hal yang bisa kita jadikan sebagai dasar pembicaraan di awal pertemuan pertama melalui pekerjaan. Seperti; menanyakan pekerjaan, tempat pekerjaan, bidang pekerjaan, dan lain sebagainya. Buat lawan bicara merasa dihargai, dan buat dia merasa bahwa kita ingin tahu dan antusias dengan pekerjaan yang dia miliki.
Hobi; setiap individu memiliki hobi yang berbeda, hal ini bisa menjadi bahan yang menarik untuk memulai pembicaraan, tanyakan soal ketertarikan/hobi lawan bicara, beri apresiasi, jika memang kita memiliki hobi yang sama berikan umpan balik.
Teman; bisa jadi kita mendapatkan lawan bicara yang juga memiliki lingkaran pertemanan yang sama dengan kita, gunakan itu sebagai awal pembicaraan, dengan membawa lingkungan pertemanan yang sama obrolan akan lebih nyaman.
Keluarga; tanyakan tentang keluarga lawan bicara, keingin tahuan kita terhadap keluarga lawan bicara bisa menimbulkan kesan yang positif, sebab kita peduli dengan orang-orang terkasih dari lawan bicara.
Diri; pertanyaan seputar ‘diri’ lawan bicara juga bisa menjadi awalan yang menarik dalam membuka percakapan, misalkan penampilan, apa yang sedang dia kerjakan saat itu dan banyak lagi yang lainnya.
Setiap kita pasti senang ketika ditanya, mulai dari pekerjaan, hobi, pertemanan, keluarga dan diri kita. Begitu juga lawan bicara pada umumnya. Biarkan mereka lebih banyak berbagi cerita, ajukan pertanyaan agar mereka nyaman, beri apresiasi. Jika kesan dalam pertemuan pertama sudah terjalin, maka keberlangsunggan relasi bisa berjalan dengan baik.
Nah, tentu saja semua itu harus kita lakukan dengan baik, jangan berlebihan, dengan bahasa yang mudah dipahami, dan tentu saja menggunakan kekuatan senyuman dan intonasi suara yang antusias dan tulus.
Oke, begitu saya cukupkan. Terima kasih sudah membaca. Salam.
Surabaya, 21 November 2017
Mudjirapontur
 

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Puisi: kala hujan lagi