Waktuku bersama Ibu; pernikahan adalah soal menyatukan dua keluarga

Jadwal kepulangan dari seminggu sekali, di bulan ini menjadi dua minggu sekali. Benar saja menjadi banyak pertanyaan yang dilontarkan Ibu ketika aku pulang. Dari pertanyaan sehari-hari melalui WA atau Telepon; sedang apa, di mana, sudah makan, sudah salat, sehat. Pada kepulangan minggu ini ada pertanyaan yang sudah cukup lama tidak Ibu tanyakan lagi.
“Sudah semakin tua saja wajahmu nak” ucap Ibu sembari mengelus daguku.
“Dewasa mungkin maksud Ibu” aku mencoba protes disebut tua.
“Jauh sebelum hari ini kamu sudah Ibu anggap dewasa” saut Ibu.
“Lantas benar-benar terlihat tua?”
“Iya” aku manyun dan Ibu tertawa.
Kami menikmati teh berdua di ruang tengah. Televisi yang menyala tidak kami hiraukan. Obrolan semula berjalan lancar, pertanyaan seputar kesehatan, pekerjaan dan hal semacamnya. Sampai ketika Ibu kembali membawa pembicaraan serius.
“Kau benar-benar sudah terlihat tua nak” ucap Ibu, ketika aku sedang menikmati teh buatan Ibu.
“Baru dua lima Bu” ucapku.
“Selalu saja menyebut angka dua lima” jawab Ibu.
“Ya meninggalkan dua lima lebih tepatnya?” ucapku.
“Sudah saatnya kau memikirkan untuk menikah” ucap Ibu, sembari membuang pandang sebentar dan kembali menatapku tajam. Aku diam, mengalihkan pandanganku ke arah televisi, dalam kondisi seperti ini aku tidak berani menatap Ibu, ada sebuah harap yang begitu aku kenal di wajah Ibu setiap membahas pernikahan.
“Ayolah, sudah lama kita tidak membicarakan ini” ucap Ibu lagi. Aku masih diam. Aku tidak tahu apa yang harus aku ucap sebagai jawaban.
“Bagaimana dengan tahun depan?” Ibu melanjutkan. Aku kembali diam, lalu kami terdiam cukup lama.
Dalam keheningan yang diiringi suara televisi yang samar-samar tak jelas acara apa. Aku memutar segala kemungkinan yang harus aku ucap. Sudah lebih satu tahun yang lalu pertanyaan ini pernah Ibu lontarkan, dan sampai saat ini aku belum juga bisa memastikan sebuah jawaban.
“Bagaimana saya harus memilih seorang wanita yang akan menjadi anak untuk Ibu?” entah mengapa kalimat itu yang keluar dari mulutku.
“Kenalkan kepada Ibu, seorang wanita yang bisa mencintai Ibu dan Bapak seperti kamu mencintai Ibu dan Bapakmu” ucap Ibu. Aku diam, mencoba mencerna kalimat itu.
“Maka carilah wanita yang mencintai kedua orang tuanya, dan karena cintanya kepada orang tuanya kamu mencintainya” Ibu melanjutkan. Aku diam, kalimat pertama belum aku temukan jawabnya, lebih lagi kalimat kedua. Dalam kondisi seperti ini Ibu memang selalu memilih kata dalam kalimat yang harus aku artikan sendiri.
“Nak, pernikahan adalah soal menyatukan dua keluarga, bukan soal kamu menikahi seorang wanita saja, tapi kamu akan menikahkan kedua keluarga, kamu akan menikahi keluarga istrimu dan sebaliknya. Jangan terlalu memilih sesuai seleramu, cari saja yang bisa menjadi seperti Ibu katakan insya Allah kamu akan bahagia” Ibu beranjak dari tempat duduknya, menepuk punggungku dan beranjak ke dapur membawa kedua gelas teh.
“Bu..”
“Iya nak?”
“Gelas teh saya belum habis masih separo”
“Oh iya, Ibu kira sudah habis” kami tertawa.
Ibu, ini aku anakmu yang malas minum susu. Ini aku yang sekali dua merajuk tak ingin pulang di malam minggu. Ibu ini aku anakmu, sudah besar dia sekarang, sudah cukup ia dilepas menabrak karang. Tapi Ibu seperti surat-surat yang aku tulis untukmu aku selalu ingin menjadi anak kecilmu yang malas minum susu. Tapi Ibu, aku sedang menunggu Wanti yang aku cintai dengan diam-diam, apakah Wanti seperti yang Ibu katakan atau tidak aku tak tahu. Ibu jika Ibu setuju carikan saja untukku wanita yang seperti Ibu.
Wonosobo November 2017
Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Silver Iceland