Katamu Kesempatan

Ketika aku menulis ini, hujan masih setia dan semburat senja tak dapat aku nikmati.
Aku baru saja menyelesaikan satu buku bacaan. Lalu sekali dua isi buku itu melintas liar di kepala, begitu pula dengan raut wajahmu. Tidak, aku tidak dapat berdusta. Ketika senja dan hujan, kau akan hadir, selalu dalam bayangan. Tak mengapa, aku bisa terima.
Ini kali entah ke berapa senja dan hujan tak kita lewati bersama, walau akhirnya kita menyudahi persembunyian masing-masing.
Pada pertemuan yang sama sekali tidak menjadikan kita asing. Aku berdoa, andai saja dulu itu. Aku kadang menjadi tertawa seorang diri, jika mengandaikan yang jauh sudah kita tinggalkan itu.
Aku teringat satu kata darimu ‘kesempatan’, ya menurutmu perlu ada kesempatan barang sekali lagi. Tapi apa yang akan kita sempatkan? Kau punya rencana? Aku tidak.
Tapi aku setuju denganmu pasal kesempatan itu. Mungkin aku benar-benar harus banyak belajar memanfaatkan setiap kesempatan, biar tak lagi ragu dan kehilangan kesempatan yang ada. Aku perlu kata ‘segera’ ketika kesempatan itu ada. Ya seperti ketika kau mengartikan ‘kesempatan’ yang ada di hadapanmu.
Benar, aku kira aku telah mendapat poin penting pada senja dan hujan yang entah kali ke berapa telah membuatku betah berlama-lama di beranda rumah tanpa segelas teh atau kopi. Aku akan belajar lebih tajam lagi merasa kesempatan yang ada.
Dengan begini aku bisa berkata dalam andai yang mengumpal di kepala, “andai aku memiliki satu kesempatan untuk mencintaimu, aku akan mencintai dia”.
Terima kasih senja dan hujan, terima masih segala kesempatan.

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Membaca Puisi: Begini Aku Sekarang