Hari bersamamu

Setiap kita memiliki hari di mana hari itu menjadi sangat istimewa. Tidak berlebihan tentunya aku menggunakan kata ‘sangat’ sebab memang demikian adanya. Percaya atau tidak mengingat hari istimewa dalam kehidupan kita mampu mendongkrak semangat naik beberapa level. Jika kalian merasa itu biasa saja, mungkin ini hanya berlaku padaku, tidak apa.
Hal terbaik dalam perjalanan spiritualku (ya elah pakai kata ‘spiritual’ segala) adalah sejak kali pertama mengenalmu. Seorang wanita yang sangat taat menjalankan perintah agama. Dari kamu pula, akhirnya aku mulai melakukan pencarian kecil tentang penciptaan. Dan dari sudut pandangmu aku mengambil jalan pencarian itu.
Ketika hari Minggu, seperti biasa aku akan mengantarmu ke sebuah gereja yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggal kita.
“Aku ke gereja, dengan begitu aku merasa ada” itu kalimat yang sering kali kamu ucap untukku sebelum memasuki gerbang gereja. Aku tak pernah paham, tapi selaku tersenyum sebagai tanda setuju. Lalu menunggu beberapa jam sampai kamu selesai.
Sepulang dari gereja kamu selalu meminta untuk singgah dulu ke rumahku, bertemu Ibu. Jika sudah demikian, aku hanya bisa menyaksikan kamu dan Ibu saling bercerita kemudian pergi ke dapur dan masak bersama. Tepat ketika Bapak pulang dari kegiatan rutin organisasi pekerja, makan siang yang sudah sangat siang itu kemudian siap. Bapak selalu memimpin doa, sebuah doa dengan ajaran keyakinan keluarga kami, kamu akan berdoa mengikuti doa kami, lalu menyambung dengan doa dari keyakinanmu. Dan obrolan di meja makan selalu menyenangkan.
“Habis dari gereja?” begitu biasanya Bapak akan membuka pembicaraan untukmu.
“Iya” kamu menjawab sambil tersenyum.
“Dia tidak ikut masuk?” lanjut Bapak sembari menunjuk ke arahku.
“Tidak aku ajak” kamu kembali menjawab.
“Kenapa?” bapak kembali bertanya. Kamu akan tersenyum, lalu diam, tidak tahu jawaban apa yang tepat untuk diucapkan, lalu melirikku atau Ibu untuk meminta bantuan menjawab.
“Tenang saja Pak, anak lelakimu ini sudah mulai mengaji dan belajar shalat” begitu biasanya aku menjawab.
“Apa hubungannya pertanyaan Bapak dengan kamu mau belajar shalat?” bapak menanggapiku.
“Itu berarti aku percaya tuhan” aku menjawab. Bapak tersenyum, lalu bercerita tentang perjalanan spiritual Bapak semasa muda, sampai menceritakan tokoh idola Bapak yaitu Gus Dur.
Kamu akan betah berlama-lama di rumah, biasanya ketika mulai sore dan kedua abang angkatku datang ke rumah bersama anak dan istrinya kamu akan meminta pamit. Tapi hari itu kamu tetap betah, lalu banyak bercerita dengan kedua istri abang angkatku itu, tentu saja ada Ibu di sana. Salah satu abangku dia seorang Katolik, dari dia aku banyak belajar soal ketuhanan, anak angkat bapak yang lain muslim sama seperti bapak, dari mereka pula aku banyak bertanya soal ketuhanan. Tapi dari kamu, aku benar-benar belajar ketuhanan.
“Jika kamu mencari kebenaran di muka bumi, yang kamu dapati adalah persepsi. Persepsi bahwa kamu benar, atau dia benar, tapi kebenaran sejati adalah merasa belum mencapai kebenaran” ucapmu ketika aku mengantarkanmu pulang.
“Lantas bagaimana dengan keyakinan?” aku kembali bertanya.
“Aku kira kamu tahu jawabnya”
“Aku tidak tahu”
“Kamu tidak tahu, berati kamu memiliki keyakinan bahwa kamu tidak tahu bukan?”
“Aku mulai pusing, lebih baik nanti kita lanjutkan di rumahmu” aku menutup pembicaraan.
Di rumahmu selalu sepi. Kedua orang tuamu bekerja di tanah rantau. Kamu tinggal hanya berdua bersama nenekmu. Aku sangat dekat dengan nenekmu, kita bertiga sering bercerita soal apa saja. Sampai ketika kumandang azan terdengar, baru sepakat untuk menunda obrolan yang menyenangkan itu.
“Katamu sudah belajar shalat?” kamh memandangku tajam.
“Lantas?” aku menjawab sembari membuang muka dari tatapanmu yang siap menghakimiku.
“Tidak sampai tiga menit jarak ke masjid” ucapmu.
“Baiklah, temani aku” jawabku, aku menjawab demikian agar kamu tidak lagi memaksaku pergi ke masjid. Tapi prediksiku salah. Kamu masuk ke dalam, mengambilkan sajadah dan siap menemani aku ke masjid.
“Tidak mau kalah” aku menggerutu.
Selesai dari masjid, dengan doa-doa yang masih menggebu di perjalanan pulang ke rumahmu, bersama kamu di sampingku aku merasa ada yang entah apa di dalam diriku.
“Apa tuhan tidak cukup dengan manusia berbuat kebaikan kepada sesama manusia?” ucapku.
“Mana aku tahu” kamu menjawab acuh.
“Aku kira aku tidak berbuat kesalahan, aku tidak melanggar larangan tuhan”
“Tapi ada perintah yang juga harus kamu jalankan”
“Aku menjalankan perintah untuk berbuat baik kepada sesama manusia” ucapku tak mau kalah.
“Tanpa kamu mengenal Tuhan, kamu akan melakukan itu bukan? Itu hubungan antara manusia dengan manusia” jawabmu, aku terpojok.
“Baiklah, maka ibadah kepada tuhan adalah hubungan hamba dengan pencintanya?”
“Tidak aku sangka kau sepintar itu”
“Hahahaha..” kami tertawa.
Setelah kembali mengobrol dan gelas teh ketiga yang kamu suguhkan tandas, aku mohon pamit.
“Teruslah menjadi orang baik, soal pencarianmu itu percayalah itu semua sudah ada dalam dirimu. Ibu dan Bapak adalah orang tua yang sangat demokratis kepada anak-anaknya, kepadaku juga tentunya. Kamu anak kandung mereka, dalam dirimu tentu saja mewarisi kemurnian dari segala kebaikan mereka, jangan kamu menjadikan waktumu sia-sia dengan mencari di luar rumah, sebab yang kamu cari ada di rumahmu sendiri, ada di kedua orang tuamu dan aku menemukan itu di rumahmu” ucapmu sembari membenarkan posisi helmku. Aku pamit. Dalam perjalanan pulang aku memulai semuanya sampai hari ini dalam keberlangsungan yang aku yakini.
Dan setiap kali mengingat hari-hari pencarian itu, aku selalu mengingat segala yang kau ucap. Sampai ketika segalanya aku rasa menjadi benar sebagai bagian kebenaran semesta. Hari bersamanya, selalu ada dan berlipat ganda.
Wonosobo 3 November 2017
Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
memuisikan puisi dimensi waktu
Puisi Dimensi Waktu – Mita Sari