Ibu dan sebuah kabar rindu

Lima hari yang lalu Ibu meneleponku, seperti biasa pembicaraan dimulai dari pertanyaan beruntun untukku; bagaimana kesehatanmu? sudah makan? shalat? sedang apa? di mana? bagaimana hari ini? ketika pertanyaan itu selesai satu persatu aku jawab, maka pembicaraan ringan akan dimulai segera.
“Ibu bertemu dia, kemarin. Dia masih sama, seperti dulu, memanggil Ibu dengan panggilan sayang ‘Mama’, ya semua masih sama, dan dia tampak begitu dewasa” Ibu memulai.
“Dia yang Ibu maksud siapa?” aku mencoba bertanya, walau aku bisa menebak dia itu siapa.
“Haruskah Ibu menyebut namanya?” Ibu menggodaku, aku hanya tersenyum di balik layar telepon.
Ya Ibu bertemu teman baikku, seorang teman wanita yang sangat aku kagumi, dia sangat dekat dengan Ibuku, sampai saat ini.
“Andai….”
“Jangan mengandai lagi bu” aku memotong kalimat Ibu yang belum selesai.
“Ya, Ibu tahu, semua sudah menjadi lebih baik dengan ketetapan Tuhan”
“Sepakat” aku mencoba mencairkan pembicaraan, nada suara Ibu mulai ingin serius.
Di sebarang sana, aku tahu Ibu sedang diam, ada kalimat yang tertunda dan sudah mendesak untuk disampaikan padaku. Aku tidak sedikit pun melarang Ibu membicarakan soal dia, tapi jika itu hanya menjadikan Ibu merasa bersalah atas segala yang sudah lalu, aku tidak mau. Baik aku maupun dia, kami sama-sama menyadari dan menghormati keputusan Ibu dan seluruh keluarga kala itu, baik dari keluargaku maupun keluarga dia. Dan nyatanya kami bisa menjadi bagian yang tak terpisahkan oleh status kehidupan kami sekarang, tetap menjadi kawan yang baik, menjadi keluarga baru yang dipertemukan oleh sebuah cerita cinta belia.
“Terkadang Ibu rindu, ketika kalian datang sepulang sekolah, lalu berebut perhatian Ibu untuk saling bercerita” Ibu menghela nafas panjang. Aku diam. Kami diam, beberapa menit, telepon masih terhubung.
“Ibu, datanglah ke rumahnya sesekali, dia selalu rindu Ibu, selalu ingin menjadi anak gadis Ibu, dia ingin mengenalkan anak-anaknya kepada Ibu, dia selalu ingin ke rumah Ibu, tapi takut menjadi alasan dia tak pernah sampai” lalu telepon kembali diam, lama dan diakhiri, tanpa salam.
Ibu, setiap anak yang mengenalmu selalu ingin menjadi anakmu, selalu. Jika mereka tak lagi datang ke rumah, bukan sebab mereka marah, kami semua tahu segala yang Ibu perintah akan berbuah manis akhirnya, kami hanya merasa takut membuat Ibu kembali kecewa. Kami selalu rindu, seperti semboyan kami “anak ibu bersatu tak bisa dipisahkan” sayang Ibu selalu, dari aku, dia, dan kami semua.
Yogyakarta 31 Oktober 2017
Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Berbicara pada tiga bebek di depan rumah