Waktuku bersama Ibu; lelaki yang menenteng tas belanja


Ini tahun ke tujuh aku tidak tinggal serumah dengan Ibu, ya sebagai perantau. Tahun ini pula aku merasa begitu beruntung karena akhirnya aku bisa lebih sering pulang. Keputusan orang tua untuk kembali tinggal di Wonosobo memang sesuatu yang sangat aku syukuri, jarak Jogja-Wonsobo cukup dekat ya sekitar 3 jam waktu tempuh sepeda motor dengan kecepatan normal. Aku jadi punya jadwal pulang yang teratur, dua minggu sekali, kadang seminggu sekali, yang pasti tidak mau sebulan sekali. Di tahun-tahun sebelumnya jadwal pulang setahun sekali, kadang juga tidak pulang justru Ibu yang mengunjungiku. Waktu itu Ibu masih di Kalimantan Selatan, rumah transmigrasi program orde baru, dan itu salah satu kampung halamanku. Adek perempuanku sekarang yang tinggal di sana, setelah resmi menikah.
Setiap pulang ke rumah Ibu, yang menjadi rutinitasku adalah menemani Ibu belanja ke pasar. Ya benar-benar menemani bukan sekadar antar jemput dan menunggu di tempat parkir. Aku harus menemani Ibu menyusuri kios dan los pedagang, mulai dari deretan los pakaian, perkakas, sayur, sampai ikan dan daging. Menenteng tas belanjaan Ibu dan sekali dua ikut mengobrol dengan pedagang yang menjadi langganan Ibu. Begitu menyenangkan, walau tidak jarang membuat perhatian dan bisik-bisik; “Kok ada ya anak lelaki yang mau menenteng tas belanjaan Ibunya,” sering kali saya dengar.
Perkara menemani Ibu belanja sudah menjadi kebiasaan sejak kecil, sewaktu SMA ketika aku sudah resmi dipercaya membawa sepeda motor dan boleh memboncengkan orang lain, aku mendapat tugas menemani Ibu ke mana saja mulai dari; arisan, ketemu teman atau saudara jauh, jahit baju, dan tentu saja belanja di pasar. Semua itu tidak sekadar antar jemput tapi benar-benar menemani. Maklum Ibu tidak dikaruniai anak perempuan, kedua anaknya laki-laki, ketika mengangkat anak perempuan tidak lama harus kuliah, lulus kuliah menikah dan ikut suami, ya jadi belum sempat banyak waktu berdua dengan Ibu.
Ketika aku kuliah tugas menemani Ibu belanja dipegang oleh Bang Syam dan Bryan, mereka juga anak angkat Ibu. Keduanya sama sepertiku merasa senang blusukan dipasar dengan Ibu. Kecuali ketika mulai dijodoh-jodohkan dengan anak pedagang langganan Ibu, baik Bryan dan Bang Syam yang playboy pun bakalan malu bukan buatan. Aku juga sering mengalami dijodoh-jodohkan, walau aku tahu itu bercanda tapi pipiku tidak bisa menahan rona merah sebab malu tapi mau.
Obrolan Ibu dengan pedagang yang biasa mulai aku hafal adalah seperti ini.
“Oh ini putranya?” tanya pedagang langganan Ibu.
“Iya Bu,” aku menjawab, setelah Ibu mengelus pundakku.
“Wah sayang Ibu ya, anak yang baik, cakep sampean mas,” ucap salah satu pedagang lainnya.
“Tapi belum rabi,” jawab Ibu tanpa permisi. Kemudian tertawa.
“Kenalkan anak perempuanku saja mbak” pedagang lain menimpali. Dan obrolan jodoh menjodohkan dimulai, dengan tawa dan canda yang aku mulai hafal.
“Cuma bercanda ya mas,” begitu biasanya kalimat penutup dari para pedagang. Aku hanya tersenyum mangut-mangut.
Dan obrolan di atas baru saja aku nikmati ketika tadi mengantar Ibu belanja di pasar. Sekarang Ibu sedang masak kangkung teri medan kesukaanku, untung saja Ibu beli kangkung dan bersedia memasakan untukku, setidaknya sebagai pengobat pipi merahku. Ibu kalau kata sayang dan kalimat cinta bisa mewakili perasaanku, setiap hari akan aku kirimkan untuk Ibu, tapi bukankah sayang dan cinta adalah kata kerja seperti yang Ibu ajarkan kepadaku.
Wonosobo, Oktober 2017
Mudjirapontur

Gambar: Sekolah Pasar/Cynthia Maharani

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Perihal Melepaskan Melupakan Mengikhlaskan dan Memaafkan