Puisi: hai lamunan

Hai lamunan, siang sudah berganti apa kau menunggu senja? Seperti hari kemarin yang membuatmu kecewa sebab senja tiada melukiskan warnanya. Ku kabarkan padamu mendung masih betah mengurung langit, baiknya kau segera bangkit. Mari kita masuk dan akan aku ceritakan sebuah perjalanan menuju senja.
Hai lamunan, tawaranku sudah kedua kali aku ucap dan kau tiada beri satu kata jawab. Apa gerangan yang menjadikanmu berlama-lama di beranda, sedang kau tak suka mendung. Apa kau menunggu hujan? Bukankah kau juga tak lagi mencintai hujan, sebab katamu akan membanjiri sudut mata kenangan.
Hai lamunan, jangan buat aku marah padamu, petang mulai datang ayo segera masuk akan aku buatkan kopi kesukaanmu. Percaya saja padaku aku bisa mencipta senja yang sama untukmu.
Hai lamunan, apa kau tak lagi bisa mendengarku? Sudah hilang ingatanku tentang jalan menuju senja, sudah dingin kopi yang aku buat, sudah buram lukisan senja yang menggantung di kepala, dan kau masih mematung sama di beranda.
Hai lamunan, sudahlah aku adalah kamu, mari segera beranjak dan kita tunggu senja esok lagi, mari kita menuang warna dalam kanvas kosong mimpi, percaya padaku segala mendung dan hujan tetap memberi arti bukan sekedar kenangan yang selalu menyudutkan rasa bersalah dalam hati. Ayo masuk dan kita mulai merangkai mimpi.
Yogyakarta Oktober 2017
Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Plastic Fashion