Ramai kita menyudahi yang tak berkesudahan

Waktu sudah berganti, nasib dipatri pada janji, lalu kita hanya saling pandang dan beradu benar dalam teori. Telat kawan, jika maksudmu menyudahi, segumpal teori dari lubang mulutmu itu lebih nyaman diludahi.
Sudahlah jangan kita bernostalgia pada jasmerah, semua tidak akan melupakan sejarah, tapi sudut pandang sejarah tidak sama oleh setiap kerah. Bung besar boleh jadi benar gagah, menyudahinya perlu garuda bermandi darah, dalam sejarah darah itu mengalir sampai basah kita punya tanah. Jasmerah!
Pergantian telah sama kita sepakati, melengserkan satu orde lalu fajar berganti, reformasi bung ini bukan sekadar mimpi, sudah terbukti berjalan pesta demokrasi, diktator silakan menepi, enyah pergi gali lubang kuburmu sendiri.
Jangan lagi meminta senyum yang telah pergi, biarkan tenang pada tempat yang sejati, cukuplah buku-buku menjadi saksi kunci setiap jengkal waktu yang pernah ia habisi.
Kini waktu sudah berpihak pada kehendak rakyat, ramai kita mencipta kotak suara mencari juru selamat. Bebas kita ingin berbuat, tak perlu lagi berbisik di makam keramat, semua diundi dalam kotak suara rakyat.
Tapi bung, apakah benar kita telah menyudahi atau sebenarnya hanya berganti wajah sampai kita tak mampu lagi mengenali. Bukankah kau telah banyak bertemu mereka yang hidup pada tiga masa besar tanah ini; ramai kita menyudahi yang tak berkesudahan, mengulang masa baru dengan satu buku panduan.
Yogyakarta 21 Oktober 2017
Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Aku Ibu dan Rani