Perkara gaya rambut dan menemukan tukang cukur idola


Dua hari lalu saya menyempatkan diri untuk datang ke barbershop, kata ganti biar kekinian tempat cukur rambut. Saya awalnya sudah yakin akan merapikan rambut saya yang mulai panjang ke barbershop langganan selama ini, eh kok ya ndilalah tutup. Saya pulang, dan di perjalanan pulang tepat di jalan besar setelah jalan perumahan yang jaraknya kurang lebih 200 meter kok ada barbershop. Apa selama ini saya nggak lihat, nggak merhatiin? Maklum saya pindah di kontrakan ini baru empat bulan.
Saya sempat ragu untuk memutuskan mencukur rambut saya di barbershop itu. Bukan apa-apa belakangan saya sempat dibuat kecewa dengan pelayanan dari produk/jasa yang saya gunakan. Ini soal rambut, mahkota kepala, dan bagi laki-laki seperti saya rambut satu-satunya yang saya perhatikan setiap pagi, minimal saya sisir, nggak perlu bedakan, menggambar alis kaya kaum hawa. Cukup sisiran sudah siap melewati hari, begitulah lelaki.
Saya pulang dulu ke kontrakan. Dan entah setan mana saya tiba-tiba kembali beranjak menuju barbershop itu. Saya masuk, dan di sana sedang ada satu pelanggan yang baru saja selesai. Saya tidak punya pilihan untuk lari, sudah langsung dipersilakan ambil posisi. Mampus pikir saya, ini soal mahkota kepala, ini nggak main-main.
“Mau model seperti apa mas?” Ucap tukang cukur setelah mempersilakan saya bersiap.
“Mengikuti model sebelumnya saja mas.” Ucap saya.
“Persis seperti sebelumnya ya?” Dia memastikan.
“Iya mas.” Jawab saya, dan peralatan cukur mulai berseliweran memangkas rambut saya.
“Lahiran 90an ya mas?” Mas tukang cukur bertanya.
“Kurang lebih, kok bisa nebak?” Jawab saya.
“Ini mengikuti Habibi.” Ucap mas tukang cukur sembari menunjuk jidat saya, saya melihat dari cermin. Sontak kami tertawa.
Lewat kelihaian tangannya, hanya memerlukan waktu kurang dari 5 menit untuk mengubah penampilan gaya rambut saya. Seperti belum di cukur saja, tapi sudah selesai. Karena penasaran saya coba memastikan apakah tatanan rambut saya sudah pas, jangan sampai salah. Saya mencoba bercermin, dibantu mas tukang cukurnya untuk melihat bagian belakang dan ya pas, sama persis dengan model sebelumnya.
Lantas saya ngobrol-ngobrol sebentar, karena belum ada pelanggan lain. Kemampuan mencukur rambutnya yang cepat ini, ia dapat dengan cara otodidak. Tidak ada teknik khusus yang ia gunakan, menurutnya gampang saja untuk menentukan keinginan pelanggan dengan melihat model sebelumnya, memastikan potongan seperti apa yang sebelumnya digunakan, maka dengan cepat bisa menentukan gaya rambut yang cocok bagi seseorang ketika tiba di barbershop miliknya.
“Ya saya nebak berhadiah saja, dengan melihat dulu pengunjung datang saya sudah ada gambaran mau dijadikan seperti apa rambutnya, lalu saya memastikan dengan bertanya dia mau gaya yang sama atau berbeda.” Ujar mas tukang cukur.
Selain itu menurutnya juga sangat penting untuk melihat dengan jeli terlebih dulu konstruksi muka, mimik muka, dan jenis rambut yang dimiliki pengunjung. Sebab menurut dia, tidak semua model rambut itu cocok diterapkan ke semua orang.
“Kadang ada yang memaksakan kehendak, kalau sudah begitu ya saya coba semaksimal mungkin, saya hanya beri saran, kalau orangnya bandel tetap maksa ya saya pasrah saja, tugas saya melayani dengan maksimal.” Ujarnya, menceritakan kalau yang minta dicukur pelanggan baru.
“Iya kalau yang sudah langganan sudah tahu model apa yang dia mau dan cocok, lebih enak lagi, bisa lebih cepat.” Tambahnya. Tapi walau sudah dipercaya banyak pelanggan menurutnya diskusi lebih dahulu soal gaya rambut sebelum proses pemotongan menjadi poin penting.
Saya merasa sangat puas dengan hasil potongan rambut kali ini, cepat dan sesuai dengan harapan, selain harga jasa yang dipatok juga di bawah rata-rata barbershop di kota ini. Entah karena saya sudah begitu puas dan merasa begitu senang, saya akhirnya melihat produk lain yang dia jual, yaitu pomade, saya tidak pernah menggunakan pomade tapi entah mengapa saya membelinya, dan ternyata pomade itu lumayan mahal untuk orang yang tidak tahu cara menggunakannya seperti saya.
Yogyakarta 19 Oktober 2017
Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Dialog takut dan berani