Puisi: menyeduh segelas resah

Sapukan padaku butir-butir keajaiban yang kau ramu dalam bungkus plastik kemajuan, hidangkan ia dalam gelas-gelas kaca yang tak lagi nyaring berdenting ketika sendok menari penuh gairah
Siram padaku dahaga kekeringan yang tak lagi sempat menahun, sebab dingin dan hujan lalu kau kembali tercurah dalam suhu yang terjaga sebagai bentuk praktis hidup hapus kata susah
Sebentar kita duduk, berbasa-basi tak sempat lagi, lalu biarkan gelas merana, kretek merana, dan kepala menunduk pada layar datar pada genggaman meraya ruang maya dan berkeluh kesah
Kau kata begitu bersemangat, memainkan jarimu pamerkan dalam segelas sapuan butir yang menghembuskan asap uap tipis dalam foto yang kau bagikan pada dunia tanpa siapa menginginkannya. Dan kau merangkai kata, mencipta dunia sendiri, mencipta resah
Di hadapanmu ada aku, yang mematung pada heran mengapa kau tertawa dan cemberut dalam waktu yang sama, memaki pada sepenggal kalimat yang kau baca, membagi pada dunia berita yang tak kau tahu isinya, lalu menjadi wujud lain dalam maya, lalu marah-marah
Kau kira aku ingin menikmati senja Seninku dengan sia-sian bersua denganmu? Apa kau kira aku hanya sebagai petugas penyeduh minummu? Kau kata ingin bersua? Apa aku ada dalam layar datar yang tak mau pergi sejenak dari genggamanmu itu? Ah sudahlah, aku kalah, kau mencipta duniamu sendiri dan kau resah untuk apa aku marah.
Yogyakarta, 16 Oktober 2017
Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Yang Kau Tulis Sore Itu