Perihal ruang tunggu kebosanan dan sepi dalam benakku


Aku sedang menunggu, kalau yang aku tunggu itu adalah waktu, apakah aku benar sedang menunggu? Aku menunggu kesepakatan waktu, dalam putaran hari, untuk memulai dan mengakhiri, harus begitu. Harus sepakat pada angka berapa memulai, juga sepakat pada angka berapa usai, kuncinya setuju.
Belakangan ini rasa bosanku kembali kambuh lagi. Jika dulu bosan ini bermuara pada kebebasan yang tiada ujung, kini justru pada rutinitas yang mengakhiri ujung kebebasan itu. Setiap pagi aku kembali rutin menyapa matahari, yang dalam novel, cerpen, atau puisi sering kali dikisahkan begitu hangat dan begitu dinanti. Tetapi baru tiga bulan aku menjalani pagi yang sebenarnya tidak selalu hangat, kadang dingin, kadang mendung, gerimis, dingin dan hujan, aku mulai bosan. Bukan saja bosan pada pagi, tapi pada aktivitas setelah itu.
Setelah mandi dan gosok gigi, menyeduh teh kadang juga kopi, lalu menikmati sembari mebakar sebatang kretek, oh nikmat sekali, sempurna. Setelah aktivitas boleh merokok selesai, kembali bersiap menghidupkan sepeda motor dan melaju dengan kecepatan yang jauh kalah dengan laju matic ibu-ibu. Menyusuri jalanan kota yang mulai macet, sesekali kena serobot, semprot, dan menahan emosi, dua tiga kali kena caci maki dan kadang harus berhenti hendak kelahi. Sudah, perjalanan menuju tempat kerja itu hanya dua puluh menit dengan kecepatan wajarku tidak lebih 40km-50km/jam, dan di sana rasa kehidupan sungguh begitu kental berganti cerita setiap hari.
Ketika kendaraan mantap terparkir, dan pintu tempat kerja menyambut dengan segala ejekannya aku memulai proses menunggu. Menggali informasi awal apa saja yang sekira bisa aku kerjakan, meminta bantuan kerja sama apa yang bisa direalisasikan, lalu menunggu jawaban. Proses menunggu jawaban ini bisa memakan waktu separuh jam kerjaku dan aku tidak melakukan pekerjaan apapun, menjadi bingung dan bosan sendiri, itu masih beruntung. Seperti bulan Oktober ini, aku bahkan menghabiskan hampir seluruh jam kerjaku hanya untuk menunggu jawaban, atas apa yang bisa aku kerjakan bersama.
Aku tidal bisa bekerja sendiri, sebagai bagian dari tim yang saling terhubung aku akan memulai pekerjaanku ketika ada persetujuan atau permintaan dari tim terkait. Selama tidak ada, maka aku benar-benar hanya diam, tidak bekerja. Terkadang aku mulai cerewet, sepanjang hari meminta kepada tim terkait agar aku segera bisa bergerak, tapi tim terkait baik secara tim maupun personal sering kali hanya mendiamkan saja. Aku paham, memang mereka belum memiliki ruang kosong menjalin kerjasama hari itu, atau membutuhkan bantuanku. Tapi untuk aku kembali menunggu dan menunggu itu sungguh membuatku jemu.
Udin kawanku yang baru saja keluar dari tempat kerjanya bercerita bahwa di tempat itu dia bekerja melebihi kapasitasnya, tidak ada waktu jeda untuk rehat sejenak. Ketika aku bercerita posisiku dalam bekerja, dia beranggapan aku sangat beruntung. Begitulah Udin dan begitulah aku. Pada posisi berlebih tugas dan kekurangan tugas memang kadang kita menjadi bosan dan ingin mengakhiri pekerjaan.
Lalu apakah hari ini akan
berbeda dari hari sebelumnya? Aku tidak tahu, yang pasti aku siap kembali menunggu, ya menunggu waktu pulang setidaknya dan kembali menjadi manusia yang siap bersua sebab sabtu dan minggu tiada hari kerja.
Selamat pagi, semangat kawanku!
12 Oktober 2017
Mudjirapontur

Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed Instagram Feed

Sapa Maya

More Stories
Sebuah Usaha Menulis Cerita SMA bagian 6 – Dugal